Perkawinan Dini Masih Marak Terjadi

Oleh: Redaksi

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Tantangan yang menghadang remaja dan generasi muda Indonesia bukanlah persoalan yang ringan. Bahkan, persoalan yang mereka hadapi pun dianggap kompleks.

Ketua Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Surya Chandra Surapaty mengatakan, jumlah remaja (usia 10-24 tahun) mencapai lebih dari 66 juta jiwa atau sekitar 25% dari jumlah penduduk Indonesia.

Menurutnya, salah satu persoalan pelik yang dihadapi remaja adalah masih maraknya perkawinan dini di kalangan remaja. Sebab, proporsi remaja usia 15-24 tahun yang aktif secara seksual cenderung naik.

Menurutnya, proporsi remaja laki-laki yang telah aktif secara seksual naik 6%, sedangkan remaja perempuan yang telah aktif secara seksual cenderung stabil.

“Angka kelahiran di kalangan remaja di Indonesia hanya turun tidak signifikan dari 51 ke 48 kelahiran per 1.000 wanita. Angka ini masih jauh dari sasaran yang diharapkan pada Rencana Strategis BKKBN, yakni 38 kelahiran per 1.000 wanita pada tahun 2019,” ungkap Chandra kepada Jurnal Bandung dalam Pembukaan Diklat Teknis Training of Trainer Pengelolaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa dan Bina Keluarga Remaja bagi Fasilitator Program Generasi Berencana (GenRe) di Hotel Hengamini, Jalan Setiabudhi, Kota Bandung, Sabtu (22/8).

Data-data tersebut, lanjut Chandra, menunjukkan masih tingginya kejadian kelahiran pada remaja di Indonesia. Hal ini disebabkan antara lain karena maraknya perkawinan dini.

Selain perkawinan dini, remaja juga menghadapi persoalan lain seperti penyalahgunaan narkoba dan penyebaran penyakit HIV/AIDS.

“Salah satu yang menjadi perhatian kita adalah belum optimalnya peran dan fungsi keluarga sebagai wahana utama dan pertama dalam menanamkan nilai-nilai moral sebagai modal dasar untuk membentuk karakter anak yang berakhlak mulia,” katanya.

Leave a Reply