Warga Desa Mangun Arga Sumedang Sudah Lelah Hadapi Banjir

Oleh: Dadan Burhan AA

Foto Dadan Burhan AA
Foto Dadan Burhan AA

Jurnal Bandung – Warga Desa Mangun Arga, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, mengaku sudah lelah setiap banjir melanda kawasan tersebut.

Ketua RW 01 Gagus S Siregar mengungkapkan, setiap turun hujan, banjir kerap melanda, khususnya di kawasan RW 01, yang meliputi 4 RT, yakni RT 01, 02, 03, dan RT 04.

Dari keempat RT tersebut, yang paling parah dilanda banjir, yakni RT 02,03,04. Bahkan, banjir juga menggenangi jalan nasional Bandung-Garut.

“Warga sudah lelah setiap terjadi banjir, kami mewakili warga meminta pemerintah terkait segera memberikan bukti, sebagai upaya mencegah terjadinya banjir di pemukiman warga,” ungkapnya kepada jurnalbandung.com, Sabtu (26/3).

Bahkan, kata  Gagus, pada Jumat (25/3) malam lalu, ketinggian air mencapai 40-50 cm dan menggenangi permukiman warga, hingga Jalan Raya Bandung-Garut.

“Sampai sekarang banjir belum surut total kan, makanya kami terus berupaya menyedot air dengan mesin pompa agar air surut, baik di kawasan penduduk maupun di Jalan raya Bandung-Garut,” bebernya.

Menurutnya, warga lelah karena setiap meminta bantuan kepada pemerintah dalam penanggulangan banjir, namun tak kunjung mendapatkan solusi yang tepat.

“Kami sudah melayangkan surat kepada perusahaan-perusahaan yang dekat dengan kawasan penduduk kami, seperti PT Dwipapuri dan Kuaram,” sebutnya.

Dia menjelaskan, sebelumnya, di belakang kawasan penduduk itu ada kali tempat penampungan air hujan. Namun, saat ini, sudah tidak ada. Sehingga, wajar saja ketika terjadi hujan di kawasan Sumedang, air meluap karena tidak tertampung lagi.
Gagus menambahkan, kapasitas mesin pompa air sebenarnya bisa menyedot air hingga 1000 liter kubik per jam. Namun, air yang disedot sulit dibuang karena tempat pembuangan air pun tergenang banjir.

“Iya sekarang membuang air banjir ke tempat yang sudah tergegang juga, ya otomatis air kembali lagi. Namun, kalau selokan yang lokasinya di belakang sudah surut, itu mudah untuk membuang air dari mesin pompa,” ungkapnya.

Menurutnya, di Kawasan industri PT Dwipapuri dan PT Kahatex, sebelumnya juga ada tempat untuk penampungan air. Namun, saat ini, sudah tidak ada. Sehingga wajar jika air meluap ke permukiman warga dan Jalan Raya Bandung-Garut.

“Kami sudah mengajukan permohonan sejak tahun 2014 dan 2015 sebagai upaya agar bisa audensi dengan pihak PT Dwipapuri. Namun, belum ada jawaban sampai sekarang,” ucapnya.

Pihaknya juga sudah mengajukan permintaan melalui surat kepada pihak PT Dwipapuri agar tembok penahan tanah (TPT) selokan ditinggikan dan diperkuat karena kondisi kirmir banyak yang bocor.

“Karena sumber utama banjir sampai ke jalan raya itu selain intensitas hujan tinggi, juga meluapnya air Sungai Cimande dan ada pembuangan dari PT Kwalram,” ungkapnya.

Menurutnya, penyebab banjir sebenarnya bukan hanya dari PT Kahatek. Selama ini, genangan banjir biasanya memang terlihat hanya di depan PT Kahatek, sehingga kebanyakan orang menyalahkan PT Kahatek saja. Padahal, lanjut Gagus, penyebabnya tidak hanya itu. Sebab, banyak juga drainase yang tidak berfungsi di lokasi tersebut.

“Maka, menurut kami, pemerintah terkait, baik Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, serta Pemprov Jabar dan pabrik-pabrik yang ada di sini perlu menangani bersama-sama untuk menyelesaikan persoalan banjir ini,” tegasnya.

Sementara itu, Tatang, 45, Warga RW 01 Desa Mangun Arga berharap, pemerintah terkait segera mengambil langkah agar banjir tidak terus terjadi.

“Upaya menyedot dengan mesin pompa saja itu tidak cukup dan bukan solusi yang tepat bagi kami sebagai warga, perlu ada normalisasi drainase yang saat ini sangat buruk,” sebutnya.

Dia melanjutkan, jangan sampai ketika air sudah menggenang permukiman warga dan Jalan Raya Bandung-Garut, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) baru menurunkan mesin pompa.

“Mana Bansos Sumedang? tidak ada, apa sudah ada namun saya tidak tahu,” katanya.

“Istilah bahasa Sundanya, lamun  poek silih caangan, mengkol silih luruskeun, salah silih omean, kajongjonan silih geuingkeun. Jadi pemerintah tidak hanya datang saat banjir, yang kami butuhkan solusi secepatnya. Kami sebagai masyarakat butuh bukti bukan janji-janji saja,” pungkasnya.

Share This

Leave a Reply