Tumbuhkan Partisipasi dan Inovasi Warga, Bandung Fokus Bangun Transparansi Data

Oleh: Redaksi

Foto net
Foto net


Jurnal Bandung – Pemkot Bandung bersama Code For Bandung, West Java Incorporated, dan Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat berkolaborasi untuk menjadikan Kota Bandung sebagai pelopor pemerintahan daerah berbasis transparansi data di Indonesia.

Konsep tersebut bertujuan untuk menumbuhkan partisipasi dan inovasi masyarakat dalam percepatan penyelesaian masalah di Kota Bandung. Selain itu, untuk memulai langkah menuju open government yang transparan, akuntabel, dan inovatif.

Hal itu dikatakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil seusai menjadi salah satu nara sumber dalam pembukaan Bandung Open Data Summit And Challenge (BOSCHA) di Gedung Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Jabar, Jalan Braga, Kota Bandung, Sabtu (21/2).

“Kota Bandung secara khusus berkomitmen menjadi kota yang fokus pada transparansi pembangunan. Konsep transparansi ini adalah sebuah konsep yang harus diterjemahkan ke dalam teknis, yaitu keinginan agar data-data bisa diakses oleh publik,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnal Bandung, Sabtu (21/2).

Menurut Emil, sapaan akrabnya, Bandung Open Data Summit And Challenge menjadi langkah awal menuju gerakan open data di lingkungan pemerintahan.

Sebelumnya, September 2014 lalu, Pemkot Bandung pun telah meluncurkan portal data Indonesia (data.go.id) sebagai upaya pengembangan transparansi data. Bahkan, pada Desember 2014, Pemkot Bandung berinisiatif untuk mendeklarasikan implementasi open data.

Langkah itu pun, kata Emil untuk menyongsong Open Data Day (http://opendataday.org/) dimana warga dari berbagai kota di dunia akan dipertemukan.

Pemkot Bandung pun telah membangun aplikasi, membuka data, membuat visualisasi, dan mempublikasikan analisis dengan menggunakan data publik secara terbuka.

Dalam Bandung Open Data Summit, lanjut Emil, pemerintah, komunitas, pelaku bisnis, akademisi, serta developer informasi teknologi (IT) juga dipertemukan dalam rangka meningkatkan kolaborasi dalam gerakan open data.

Sementara Open Data Challenge bertujuan untuk mendorong inovasi teknologi informasi untuk membantu proses di internal Pemkot Bandung maupun meningkatkan layanan publik.

Acara ini akan dihadiri 250 peserta yang terdiri dari kalangan pemerintah kota, kementerian/lembaga, pelaku bisnis, akademisi, komunitas, developer IT, dan masyarakat umum.

“Dengan semangat open data ini, kita membuat sebuah kompetisi karena sebelumnya orang sulit untuk mendapatkan data di pemerintahan. Urusan pemkot ini kan banyak, ada tiga puluh dinas. Untuk kompetisi ini fokus pada tiga urusan dulu yakni transportasi, kebencanaan, dan ekonomi. Hasil ini nanti akan menjadi sebuah aplikasi yang insyaAllah bisa dipakai warga,” terang Emil.

Selain itu, pihaknya juga tengah menyusun konsep smart city dimana perbaikan pelayanan publik akan dilakukan melalui penerapan teknologi informasi.

“Dengan semangat transparansi kita menggunakan teknologi untuk menerjemahkan transparansi. Sehingga suatu hari nanti Bandung menjadi kota modern dimana teknologi smart city ini menjadi biasa karena sudah menjadi budaya orang Bandung,” ujarnya.

Masih di tempat yang sama, Deputi III Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Agung Harjono menjelaskan, Bandung Open Data Summit And Challenge merupakan upaya untuk mempopulerkan pemerintah daerah agar lebih terbuka terkait data-data yang dimilikinya.

“Semakin data itu terbuka maka masyarakat, dunia usaha, para peneliti akan berinisiatif mengeluarkan inovasi-inovasi. Gerakan keterbukaan itu juga akan mendorong bagaimana informasi mandat yang dikerjakan bisa dipublikasikan di data.go.I’d yang diharapkan akan mendatangkan manfaat, salah satunya memudahkan investasi,” urainya.

Hal senada dikatakan Ketua Dewan Pengembangan Bandung Smart City, Ilham Habibie. Menurutnya, Bandung Open Data adalah inisiatif untuk memperbaiki database yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan. Selain itu, Bandung Open Data juga berpotensi menghadirkan investor yang akan berinvestasi di Kota Bandung.

“Yang unik dari open data ini adalah kolaborasi yang tidak hanya dilakukan pemerintah saja, tapi lintas sektoral. Bukan hanya SKPD saja, tapi juga pelaku bisnis, akademisi, developer IT, LSM, dan masyarakat umum. Semua ikut bersama-sama mencari suatu solusi,” pungkas Ilham.

Kegiatan Bandung Open Data Summit And Challenge digelar 21-28 Februari 2015 bertepatan dengan hari data terbuka internasional. Acara tersebut diikuti sekitar 500 peserta dari Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida), Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung, kementerian, akademisi, developer, domain expert, komunitas dan masyarakat umum. Dalam pelaksanaannya, Kota Bandung akan menjadi bagian dari 132 kota lain di dunia untuk menyelenggarakan rangkaian acara data terbuka internasional.

Leave a Reply