Terganjal Penolakan PDAM Kota Bandung, SPAM Bandung Raya Belum Bisa Direalisasikan

Oleh: Yuga Khalifatusalam

Jurnalbandung.com – ‎PDAM Kota Bandung hingga kini tak kunjung menyetujui tarif sistem pengelolaan air minum (SPAM) Bandung Raya. Padahal, Kabupaten Bandung sudah menyetujui penentuan tarif SPAM tersebut.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat Iwa Karniwa menerangkan, pihaknya belum bisa menandatangani tarif SPAM Bandung Raya. Pasalnya, PDAM Kota Bandung masih keberatan, sehingga harus ada rapat teknis lanjutan.

“Kabupaten Bandung sudah setuju, tinggal PDAM Kota Bandung, saya minta rapat teknis dilanjutkan. Jumat pekan ini sudah bisa selesai,” terangnya di Bandung, Senin (5/12).

Menurutnya, penentuan tarif harus segera ditetapkan bersama antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, BUMD PT Tirta Gemah Ripah (PT TGR), Pemprov Jabar, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Penentuan tarif bagian dari kerja sama pengembangan SPAM Bandung Raya,” tambahnya.

Diakui Iwa, penentuan tarif SPAM ini cukup alot. Pasalnya, PDAM Kota Bandung masih keberatan dengan besaran tarif yang ‎sudah dihitung Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jabar.

“Dari tarif yang diajukan PT TGR, Kota Bandung Rp1.887 liter/detik, Kabupaten Bandung Rp1.510 liter/detik. Ini masih ada keberatan dari Kota Bandung,” bebernya.

Menurut Iwa, PDAM Kota Bandung beralasan tarif sebesar itu bisa merugikan PDAM karena wilayah yang akan dilayani SPAM Bandung Raya berada di wilayah Jalan Moch Toha yang mayoritas merupakan masyarakat berpenghasilan rendah.

“Hasil audit BPKP (soal tarif) sudah ada, hanya perlu pembahasan lagi, khususnya di Kota Bandung. Ini perlu percepatan,” ujar Iwa.

Pihaknya memandang, alotnya penetapan tarif SPAM karena PT TGR dan PDAM Tirta Wening masih melihat asumsi keuntungan dan biaya pemeliharaan jaringan.

Iwa menambahkan, karena jaringan sudah siap, jika kerja sama ini mulus, maka pada awal 2017, air sudah bisa dialirkan untuk 60.000 jiwa di Kabupaten Bandung.

“Untuk Kota Bandung 90.000 jiwa. Kita hanya fasilitasi saja agar ini cepat,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Direktur Air Minum PDAM Tirtawening Kota Bandung Rahmawati Rahman mengatakan, pihaknya sudah membedah seluruh komponen yang mempengaruhi tarif yang ditawarkan PT TGR.

“Kita sepakat cara perhitungan formulasi tarif yang disodorkan BPKP, hanya besarannya kita enggak sepakat,” akunya.

Menurutnya besaran minimum profit dari SPAM Bandung Raya ini terdapat perbedaan dimana Kabupaten mendapat 1,3% dan Kota 2,4%. Sementara pengali aktiva produktif kedua daerah sama, meski dibedakan panjang pipa distribusinya.

“Jangan sampai satu beban ini dihitung ke kabupaten, terus (dibebankan) ke kota juga,” katanya.

Rahmawati berharap, besaran tarif bagi Kota Bandung sama dengan Kabupaten Bandung di angka Rp1.510 liter/detik. Dengan harga sebesar itupun, pihaknya mengaku hanya bisa memperoleh keuntungan Rp19 juta/bulan.

“Padahal kami harus memperbaiki jalur distribusi di selatan karena ada kebocoran juga, itu investasinya saja mencapai Rp98 miliar. Kita break event point-nya kapan?” bebernya.

Share This

Leave a Reply