Takut Ganggu Psikologi Siswa, Pengamanan Ekstra Saat UN Dihilangkan

Oleh: Yuga Khalifatusalam

Foto net
Foto net


Jurnal ‎Bandung – Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) 2015, Pemprov Jawa Barat sudah menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan persiapan UN.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar Asep Hilman mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Disdik kota/kabupaten yang ada di Jabar.

“Persiapan demi persiapan sudah dilaksanakan secara maksimal. Dari mulai soal ujian sampai proses pelaksanaannya,” kata Asep kepada Jurnal Bandung di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (9/4). 

Dia menyatakan, seluruh sekolah di Jabar sudah siap melaksanakan UN. Untuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Asep menyebut jumlah sekolahnya 1340 dengan total peserta UN 167.828 siswa, Madrasah Aliah, jumlah sekolahnya 1012 dengan peserta 50.327, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jumlah sekolah 2195 dengan jumlah peserta 248.582.

Sementara itu, kata Asep, untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), jumlah sekolahnya mencapai 2277 dengan peserta 570585, MTS sebanyak 160 sekolah dengan jumlah peserta 190.690, paket B jumlah peserta 22.128 dan Paket C jumlah peserta 32.064.

“Itu peserta UN yang terdaftar dalam nominatif. Artinya jumlah peserta itu wajib ikut UN,” ucap Asep.

Dalam kesempatan itu, Asep juga mengungkapkan, pihaknya tidak akan memberlakukan pengamanan ekstra dalam UN ini. Dia juga mengatakan bahwa hasil UN tidak menjadi harga mati bagi siswa yang mengikuti UN.

“SOP (standar operasional prosedur) sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, yang pasti sekarang tidak ada lagi pengamanan yang ekstra ketat karena bisa mengganggu psikologis anak,” katanya.

Disinggung soal UN yang masih menggunakan barcode, Asep belum bisa memastikannya. Dia mengaku akan berkoordinasi terlebih dulu dengan Kementerian Pendidikan. Namun, kata dia, untuk yang konvensional, kini sudah tidak menggunakan barcode.

“Secara sistematik kita akan teleconfren dengan pak menteri, tapi secara teknis kami langsung ke sekolah-sekolah. Untuk yang konvensional tidak menggunakan barcode. Ya seperti dulu saja, lagian paketnya juga tidak sebanyak yang dulu. mungkin ini karena posisi UN tidak lagi dijadikan sebagai penentu,” paparnya.

Terkait pengamanan soal, Disdik Jabar juga sudah berkoordinasi dengan Polda Jabar. Meski pengamanan tidak dilakukan secara ekstra, menurutnya, polisi tetap dibutuhkan dalam pengawalan naskah UN. 

“Alhamdulilah pihak kepolisian sudah memberikan bantuannya. Jadi ada petugas-petugas yang dilibatkan dalam kepanitian. Bersyukur mereka sangat terbiasa, tidak perlu ada hal-hal yang lebih detail lagi. Harapan kita, dengan pengamanan di naskah soal, tidak menghambat penyelenggaraan UN,” tutupnya.

Share This

Leave a Reply