Suka Duka Menjadi Sopir Bus Bandros

Oleh: Redaksi

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Bus Bandros (Bandung Tour on Bus) kini sangat populer. Bukan hanya di mata warga Bandung, bus Bandros pun kini populer di kalangan wisatawan yang kerap berkunjung kota berjuluk Parijs Van Java ini.

Salah seorang di balik kepopuleran bus Bandros adalah Dadang Sumardi. Dialah orang di balik kemudi bus Bandros. Di usianya yang sudah 62 tahun, Dadang mengaku menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik kemudi bus.

Sejak 1970, Dadang sudah berprofesi sebagai sopir bus, mulai mengemudikan bus Pengangkutan Penumpang Djakarta (PPD) di DKI Jakarta hingga bus Saudi Public Traportation di Arab Saudi.

Dan kini, Dadang menjadi sopir bus Bandros sejak awal 2014 lalu. Dadang mengemudikan bus Bandros pertama yang merupakan bantuan corporate social responsibility (CSR) salah satu operator seluler terkemuka itu.

Setiap ada tugas mengemudikan bus Bandros, Dadang sudah standby sejak pukul 07.00 WIB di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung.

Dengan mengenakan kemeja warna merah yang sesuai dengan warna bus Bandrosnya dan iket Sunda plus kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya, Dadang selalu setia melayani warga yang hendak berkeliling Kota Bandung menggunakan bus Bandros.

Selama lebih dari 1,5 tahun menjadi sopir bus Bandros rupanya memberi kepuasan tersendiri baginya. Dadang mengaku bangga karena sering membawa tamu-tamu penting, bukan hanya tamu dari dalam negeri, juga tamu penting dari berbagai negara.

“Bangga karena bisa salaman langsung sama orang-orang penting.  Gubernur dan wakil gubernur, terus menteri dan bawa duta besar dari berbagai negara juga pernah. Duta Besar Inggris pernah saya ajak keliling Bandung bersama Pa Wali Kota,” ungkap Dadang kepada Jurnal Bandung di sela-sela aktivitasnya, Jumat (21/8).

Dadang pun mengaku senang ketika orang yang menaiki bus Bandrosnya senang dan ceria saat diajak berkeliling Kota Bandung.

“Mereka biasanya penasaran, pengen tahu setiap sudut Kota Bandung. Tapi saya senang karena mereka pun umumnya mengaku puas,” tambah Dadang.

Namun begitu, menjadi seorang sopir bus Bandros bukan tidak disertai duka. Menurut Dadang, dia terkadang merasa sedih saat Kota Bandung diguyur hujan. Sebab, saat hujan, otomatis bus Bandrosnya tidak dapat beroperasi.

Duka lain yang dirasakan Dadang yakni status pekerjaannya yang hingga kini belum jelas. Sebab, Dadang hanya bekerja dengan sistem charter-an dan dibayar harian sebesar Rp150 ribu per hari.

Dengan sistem charter yang diterapkan pihak pengelola, dia hanya bisa menunggu order untuk mengemudikan bus Bandros.

“Kalo dibilang statusnya freelance. Pengennya ada komitmen dengan pegelola. Per bulan digaji berapa, jadi biar bapa itu enak. Kalo gak ada order kan ga dibayar, karena dibayar per hari. Jadi tergantung konsumen yang nyarter,” tutur Dadang seraya menambahkan, kecintaannya terhadap Bandung dan bus Bandros membuatnya bertahan untuk terus mengemudikan bus Bandros.

Leave a Reply