Sering Picu Kontroversi, Akademisi Sunda: Pemikiran Dedi Mulyadi Rasional

Oleh: Redaksi

Jurnalbandung.com – Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi kerap mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dianggap sebagian orang nyeleneh, bahkan tak sedikit yang akhirnya memicu kontroversi di kalangan masyarakat.

Sebut saja aturan batasan waktu pacaran hingga pukul 21.00 WIB hingga mewajibkan pegawai negeri sipil (PNS) menggunakan tas berbahan karung goni. Namun, bagi kalangan akademisi berlatar belakang Sunda, kebijakan-kebijakan bakal calon gubernur Jawa Barat itu justru bagus dan rasional.

Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi mengatakan, Dedi Mulyadi merupakan penganut Sunda ideologis, sehingga memiliki akar yang kuat tentang ke-Sunda-an. Karenanya, dia menilai wajar sebagian orang yang menilai gagasan dan kebijakan Dedi Mulyadi penuh kontroversi.

“Ketika masyarakat Jawa Barat wawasan ke-Sunda-annya itu masih belum utuh, maka pendapatnya akan dianggap kontroversial, itu wajar. Tapi bagi kalangan akademisi di Paguyuban Pasundan yang memiliki background keilmuan yang tinggi, ini perlu dibahas, dikaji, karena pemikiran-pemikirannya bagus dan rasional,” papar Didi di Sekretariat Paguyuban Pasundan, Jalan Sumatra, Kota Bandung, Selasa (18/7/2017).

Didi pun mengapresiasi kehadiran Dedi Mulyadi ke Sekretariat Paguyuban Pasundan untuk berdiskusi tentang Indonesia dan Jabar khususnya. Didi menegaskan, meskipun organisasi yang dipimpinnya netral dan tidak berpihak pada partai politik manapun, Paguyuban Pasundan tetap memiliki sikap politik.

“Tentu kita akan mendoakan, sebelum yang lain, tentu warga Paguyuban Pasundan dulu yang kita doakan. Hanya kebetulan yang sudah datang ke sini secara resmi dan ada pengurus ini Pak Dedi,” jelasnya.

Sementara itu, Dedi Mulyadi berharap organisasi yang fokus dalam dunia pendidikan berbasis ke-Sunda-an ini tetap menjadi pengayom bagi semua dan tidak terlibat dalam politik praktis. Sebab, anggota Paguyuban Pasundan merupakan orang-orang yang memiliki afiliasi.

“Sehingga, sifatnya mengayomi sebagai orang tua, memberikan nasihat, saran, pendapat, bahkan menegur ketika anggota-anggotanya berbuat salah atau bertentangan dengan spirit ke-Sunda-an,” harapnya.

Disinggung soal pola pendekatannya untuk meraih dukungan masyarakat Jabar, Dedi berjanji akan terus menjalankan tradisi Nganjang. Menurut dia, tanpa berkaitan dengan ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar sekalipun, tradisi orang Sunda itu tetap akan dia jalankan.

Sejak menjadi anggota DPRD, Dedi mengaku kerap menyambangi langsung masyarakat. Bahkan, Dedi pun rutin menginap di rumah-rumah warga di daerah pemilihannya. Tradisi itu pun berlanjut saat dia menjabat Wakil Bupati dan Bupati Purwakarta.

“Bagi saya tidak ada kaitannya dengan persoalan pilgub, Itu mah sudah tradisi orang sunda, tradisi nganjang. Yang gak boleh itu kan nganjang digerebek ku hansip,” tandas Dedi diiringi tawa.

Share This

Leave a Reply