Sembilan Kabupaten Terima APE Karya P2TP2A Jabar

Oleh : Redaksi

Jurnalbandung.com  – Sebanyak sembilan Kabupaten menerima APE (Alat Peraga Edukatif) hasil karya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat, yang akan digunakan oleh para motekar (motivator ketahanan keluarga) dalam menjangkau dan membina anak-anak yang mengalami pengalihan pengasuhan oleh orangtuanya akibat menjadi buruh migran.

APE diserahkan langsung oleh Ketua P2TP2A Jawa Barat Netty Prasetiyani Heryawan, usai memberikan arahan pada kegiatan Training of Trainer Pengasuhan Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PPABM) dengan tema materi “Filosofi Pola Asuh Berbasis Masyarakat”, di Hotel Takashimaya Jl. Grand Hotel No. 35 Lembang Kabupaten Bandung Barat, Kamis (09/11) malam.

Sembilan kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bandung, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Purwakarta. Penentuan penerima tersebut didasarkan pada daerah pengirim buruh migran terbesar di Jawa Barat sesuai data Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Netty menjelaskan, APE ini berisikan permainan seperti beberan, ular tangga, kartu-kartu karakter, kartu pembentuk sikap, dan sebagainya yang memuat empat materi besar, yakni konsep diri, media literasi, kesehatan reproduksi, dan komunikasi. Diharapkan, APE akan melengkapi konsep PPABM  serta menjadi alat bantu bagi motekar untuk melakukan penjangkauan dan pembinaan bagi anak-anak yang mengalami kerentanan dan juga mengalami pengalihan pengasuhan di daerah tempat mereka bertugas.

“Jadi ada empat materi besar yang memang harus disampaikan dengan berbagai metode, ada dengan bercerita, bernyanyi, bermain bersama, dan itu akan sangat membantu para motekar dalam melakukan dan mensosialisasikan PPABM,” papar Netty.

Guna menghindari tindakan plagiarisme, Netty bersama tim P2TP2A Jawa Barat membutuhkan rentang waktu yang cukup panjang dalam membuat APE ini, mulai dari menggulirkan ide PPABM sampai melakukan uji publik. Tak cukup sampai situ, P2TP2A pun mengimplementasikan APE tersebut pada pilot project-nya di Citepus Bandung, sampai kemudian ada penyempurnaan konsep dan berbagai perbaikan pada APE terus ditempuh, agar tidak ada pihak yang menggugat karena merasa karyanya diplagiat.

“Kita perlu menghormati, mengapresiasi karya orang lalin, sehingga kita mencoba untuk membuat sendiri, dan (APE) itu tentu saja khas Jawa Barat yang memang dibuat oleh teman-teman P2TP2A, melibatkan pemenang lomba desain kartu pos yang diselenggarakan oleh P2TP2A beberapa waktu yang lalu,” katanya.

Netty juga mengungkapkan, kedepannya APE akan diproduksi secara besar-besaran, sesuai dengan kebutuhan para motekar dalam menjalankan tugas dan fungsinya di lapangan. Ditargetkan, ke-5.900 desa di Jawa Barat akan mendapatkan APE, sehingga motekar dapat berdayaguna dalam mengimplementasikan PPABM untuk menjawab, mengisi kekosongan dan juga melengkapi kekurangan orangtua dalam menyelenggarakan pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan bagi anak-anaknya.

Leave a Reply