Selain Mengurai Kemacetan, Flyover Antapani Diharapkan Jadi Ikon Baru Kota Bandung

Oleh: Bayu Wicaksana

Jurnalbandung.com – Flyover (jembatan layang) Antapani mulai diujicoba penggunaannya, Rabu (28/12). Flyover sepanjang 400 meter ini dibuka untuk umum selama dua jam mulai pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB.

Ratusan, bahkan ribuan kendaraan langsung menyerbu akses jalan baru tersebut. Namun, berdasarkan pantauan, dibukanya jembatan layang ini belum mampu memecah kemacetan di sekitar Jalan Terusan Jakarta (Antapani) dan Jalan Kiaracondong.

Antrean kendaraan masih terlihat mengular meski jembatan layang tersebut sudah bisa digunakan. Terlebih, pada pagi hari, banyak kendaraan dari arah Antapani dan Kiaracondong yang hendak melintas ke Jalan Supratman, sehingga penumpukan kendaraan akibat penyempitan tersebut tak bisa dielakan. Kondisi ini diperparah dengan belum dibukanya salah satu ruas jalan di bawah jembatan layang.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan, pihaknya melakukan tes pola lalu lintas di jalan layang tersebut. Jembatan layang yang dibangun sejak Juni 2016 ini akan dibuka permanen 31 Desember mendatang.

Pembukaan jalan layang inipun, kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, diharapkan mampu semakin memeriahkan malam pergantian tahun di ibu kota Provinsi Jawa Barat ini.

“Dibuka Sabtu, sekalian tahun baru,” ujar Emil.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, kemacetan saat uji coba terjadi karena adanya penyempitan di titik awal dan akhir jembatan layang.

Terlebih, pada jembatan layang yang dibangun dalam waktu singkat ini diberlakukan dua arah, baik untuk kendaraan roda dua, empat, maupun lebih.

“Dari arah Kircon, di situ ada bottle neck. Nanti dari Kircon dua arus, boleh belok kiri, boleh lurus (setelah ruas jalan dibuka),” kata Didi ditemui di lokasi uji coba.

Menurutnya, skema penggunaan jalan layang tersebut masih dimungkinkan diubah agar keberadaannya mampu menjadi solusi mengatasi kemacetan yang kerap terjadi di kawasan tersebut.

“Kalau pagi tak terselesaikan (macetnya), bisa disusun lagi opsi lain,” katanya.

Didi melanjutkan, keberadaan jalan layang ini pun diharapkan bisa menjadi ikon baru Kota Bandung. Selain memiliki fungsi infrastruktur, jalan layang inipun diyakini memiliki bentuk yang unik dan indah dengan adanya lukisan mural di sepanjang dindingnya.

“Jalan bukan sekadar dilewati, tapi harus dinikmati,” katanya.

Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Bandung AKB Asep Pujiono mengatakan, pada 29 Desember nanti, pihaknya akan kembali menguji coba jembatan layang sehari penuh untuk mengetahui kondisi sesungguhnya pascadibukanya akses jalan baru tersebut.

“Nanti bisa dilihat apa kekurangan dan hambatannya,” katanya di tempat yang sama.

Dengan begitu, pihaknya akan mematangkan cara bertindak untuk mengatasi persoalan kemacetan yang selalu terjadi di kawasan tersebut. Dia optimistis, kemacetan akan terurai dengan adanya jembatan layang tersebut.

Kemacetan yang ada saat uji coba ini, kata dia, terjadi karena masih adanya ruas jalan di bawah jembatan layang yang belum dibuka. Selain itu, dia mengakui, kemacetan ini terjadi akibat adanya penyempitan jalan pascaberdirinya jembatan layang.

Direktur Pengawasan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Najib Faiza menambahkan, lukisan mural flyover Antapani ini hasil karya lulusan Institut Teknologi Bandung Jon Martono. Lukisan ini mengandung makna kebersamaan sesuai dengan kondisi Indonesia yang terdiri dari banyak golongan, suku, dan agama.

“Ini mengandung makna tidak ada perbedaan suku, agama. Kita semua sama, kebersamaan,” katanya.

Menurutnya, mural pada Jembatan Layang Antapani ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara.

“Kalau di Eropa sudah ada di Italia,” katanya.

Menurut dia, teknik pembangunan dengan baja bergelombang pada Jembatan Layang Antapani ini merupakan yang pertama di Indonesia. Hal yang sama pun terjadi pada penggunaan beton busa karena sebelumnya tidak pernah ada bangunan lain yang menerapkan teknik tersebut.

Jembatang layang ini, kata Najib, dibangun dengan biaya sebesar Rp35 miliar yang berasal dari APBN Rp21 miliar dan APBD Kota Bandung Rp10 miliar. Sedangkan sisanya berasal dari pihak swasta berupa kebutuhan material.

Share This

Leave a Reply