Sebagian Warga Kecamatan Solokanjeruk dan Rancaekek Tepaksa Melintasi Jembatan Bambu

Oleh: Dadan Burhan AA

Jurnalbandung.com – Sebagian warga dari dua Kecamatan Rancaekek dan Solokanjeruk terpaksa memanfaatkan jembatan yang terbuat dari bambu sekira 40 meterĀ  sebagai akses untuk melintas sungai Citarik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jurnalbandung.com. warga tersebut yakni, warga Desa Sukamanah, Kecamatan Rancaekek dan Desa Solokanjeruk, Kecamatan Solokanjeruk Kabupaten Bandung.

Warga berharap kepada pemerintah terkait agar segera bisa membatu membuat jembatan yang layak, sehingga bisa dilalui sebagai akses jembatan yang layak para pejalan kaki.

Sebelumnya warga bergotong royong membuat jembatan tersebut dengan cara swadaya. Jembatan bambu tersebut hanya mengikat batang-bantang bambu dengan menggunakan tali dari ijuk. Jembatan yang membentang melintasi di dua kecamatan tersebut tepatnya menghubungkan Kampung Rancakemit, Desa Sukamanah ke Kampung Rancakemit, Desa Solokanjeruk.

Asep Sopandi ,48, salah seorang warga Desa Solokanjeruk mengatakan, jembatan bambu sengaja dibangun oleh warga. Pasalnya, sebelumnya dari ke dua warga desa pernah mengajukan untuk membangun jembatan kepada pihak pemerintah terkait. Namun, usulannya belum terealisasi oleh pihak pemerintah.

“Dulu pernah ada usulan untuk bangun jembatan disini. Tapi enggak pernah ditanggapi. Akhirnya warga sepakat membuat (jembatan) dengan menggunakan bambu saja,” kata Asep kepada Jurnalbandung.com. Minggu (16/4).

Asep mengaku, warga yang memanfaatkan jembatan bambu tersebut tidak semua masyarakat Desa Sukamanah dan Desa Solokanjeruk. Warga yang memanfaatkan jembatan bambu tersebut diperuntukkan bagi orang yang mempunyai keberanian untuk melintas.

“Enggak semua (warga) pakai jembatan ini. Yang berani saja. Yang enggak berani ya harus memutar jauh. Apalagi bagi anak-anak dan ibu-ibu. Soalnya kan ini (jembatan) bahaya, bambu seadanya. Apalagi kalau arus sungai lagi deras, enggak ada yang pakai,” ungkapnya.

Asep berharap pemerintah dapat membangun jembatan di kawasan tersebut dengan layak. Sehingga, warga di dua desa tersebut tak perlu jauh-jauh memutar untuk dapat berkunjung ke Desa Solokanjeruk maupun Desa Sukamanah.

“Harapan saya pemerintah menanggapi usulan warga yang ingin ada jembatan yang layak disini. Kalau harus memutar waktunya juga lebih lama,” katanya.

Hal senada dengan Asep, Encu, 65, warga Kampung Rancakemit Desa Solokanjeruk, menyebutkan jembatan sengaja dibuat warga karena jembatan penghubung antar dua desa tersebut jaraknya cukup jauh. Namun jembatan tersebut hanya dibuat khusus untuk pejalan kaki.

“Jembatan ini dibuat sudah beberapa bulan lalu saat air Sungai Citarik lagi surut secara swadaya. Jembatan ini dimanfaatkan warga dari Desa Sukamanah dan Desa Solokanjeruk,” katanya.

“Mau ke jembatan penghubung jaraknya jauh, sampai 800 meteran. Jadi dibuat disini. Ini hanya untuk pejalan kaki saja, karena cuma jembatan seadanya,” sambung Encu.

Leave a Reply