Polwan Cantik Ini Puji Kemampuan Atlet-atlet Peparnas Jabar

Oleh: Yuga Khalifatusalam

Foto Yuga Khalifatusalam
Foto Yuga Khalifatusalam

Jurnal Bandung – Pengamanan dari petugas kepolisian menjadi prosedur tetap dalam setiap ajang yang menghadirkan banyak massa, tak terkecuali saat pelaksanaan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2016 di Jawa Barat.

Meski berjalan lebih kondusif dibanding Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016, Kepolisian Daerah (Polda) Jabar memastikan kehadiran personelnya di 13 lokasi pertandingan untuk memperlancar event olahraga bagi kaum disabilitas tersebut.

Dari sekian banyak polisi yang diterjunkan untuk mengamankan jalannya Peparnas 2016, salah satunya adalah Briptu Nurmala Hilda, polisi wanita yang bertugas menjaga pertandingan tenis lapang kursi roda, di Lapang Tenis Kompleks Stadion Siliwangi, Kota Bandung.

Bersama tujuh orang rekannya, Lala, begitu dia akrab disapa, bersiaga untuk memberikan rasa aman bagi siapa pun yang berada di venue tersebut. Setiap harinya, polisi cantik ini bertugas sejak pukul 07.00 WIB hingga sore hari.

Selain harus memantau setiap sudut lapangan tenis, Lala pun tak jarang turut membantu atlet bergeser tempat, terutama saat turun atau naik bis yang mengantarkan mereka dari hotel tempat beristirahat. Dengan tugas barunya ini, Lala mengaku memiliki pengalaman yang baru juga.

“Baru pertama kali melihat pertandingannya,” kata Lala, belum lama ini.

Dirinya tak menyangka atlet Peparnas memiliki kemampuan yang luar biasa. Meski memiliki keterbatasan, kata Lala, pertandingan yang mereka suguhkan mampu mengundang decak kagum.

“Mereka bermain hebat, enggak nyangka,” pujinya.

Lala pun tak sependapat jika keterbatasan fisik atlet disabilitas ini dinilai sebagai kekurangan. Justru, kata dia, ini merupakan kelebihan Tuhan yang dianugerahkan kepada mereka.

Dia menilai, atlet disabilitas memiliki mental, tekad, dan semangat yang lebih dibandingkan dengannya. Lala pun merasa tersadarkan karena dengan penampilan fisiknya yang sempurna, belum tentu memiliki kelebihan seperti yang dimiliki atlet disabilitas.

“Kalau merenungkannya, saya hampir mau nangis. Kita ini harus menyontoh mereka,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Lala pun sangat menilai positif adanya ajang seperti Peparnas ini. Menurutnya, hal ini mampu membuka mata siapa pun akan kaum disabilitas.

“Harusnya kita yang malu karena diberi fisik lengkap, tapi terkadang banyak mengeluh,” katanya.

Share This

Leave a Reply