Pengamat Ini Menilai, DPP Golkar Ingin Lihat Sejauh Mana Loyalitas Kadernya di Jabar

Oleh : Yuga Khalifatusalam

Jurnalbandung.com –  Keinginan ketua DPD Golkar Dedi Mulyadi menjadi Cagub Jabar 2018 belum terwujud. Pasalnya sampai saat ini DPP Partai Golkar belum memberikan rekomendasi SK Cagub Jabar kepada yang bersangkutan.

Pengamat politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Prof. Asep Warlan Yusuf menilai, sikap DPP Partai Golkar tersebut, merasa belum yakin dengan sosok Dedi Mulyadi yang mampu bertarung dalam perebutan kursi Jabar satu.

Terbukti, menurut Asep, DPP Golkar mewacanakan simulasi beberapa pasangan
cagub-cawagub Jabar, sejatinya ingin melihat sampai sejauh mana ketertarikan partai lain
untuk menjalin kerjasama politik dengan Golkar.

“Apakah partai lain lebih responsif dengan pasangan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqin, atau
Deddy Mulyadi-Aceng Fikri, atau pasangan lainnya,” katanya.

Asep menilai, DPP Golkar tidak yakin dengan sosok Dedi Mulyadi, karena sampai saat ini belum terlihat komunikasi politik dengan partai lain.

“Saya kira memang sampai sejauh ini Dedi Mulyadi belum teruji dalam menggaet mitra koalisi. Kalupun merasa sudah banyak partai yang
siap berkoalisi dengan Golkar, itu baru ambon sorangan (klaim sepihak),” ujar Asep kepada wartawan,  Jumat (6/10).

Menurutnya, Bahwa sikap DPP Golkar ini seolah ingin melihat loyalitas para kader Golkar yang ada di Jawa Barat.

“Bisa jadi, Dengan menggantungkan Dedi Mulyadi ini, DPP ingin melihat loyalitas kader Golkar kepada DPP. Apakah loyal terhadap partai atau loyal kepada personal,” katanya.

Asep menjelaskan, munculnya dorongan dari beberapa kader Golkar Jabar agar pelaku pembuat SK bodong pengusungan Ridwan Kamil-Daniel Muttaqin harus dipidanakan, seruan ‘Save Partai Golkar’, bendera Golkar setengah tiang, aksi kumpul uang koin untuk DPP Golkar serta sejumlah aksi lain, menurutnya malah menjadi pertanyaan bagi DPP Golkar.

“Apakah isu-isu yang dimunculkan itu bisa dijadikan tanda sebagai bentuk loyalitas terhadap Golkar? Jadi, loyalitas itu bisa dipertanyakan. Tapi bisa jadi Dedi Mulyadi memang benar sebagai loyalis murni,” ungkap Asep.

Terkait hal itu, Abeb Setiawan, Ketua Dewan Penasehat Golkar Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa para kader Golkar Kabupaten Sukabumi hanya fatsun terhadap Partai Golkar secara institusi, bukan pada perorangan. “Kita tetap fatsun terhadap keputusan DPP, siapapun figur yang ditunjuk. Sekarang memang sikap DPP belum memberikan rekomendasi secara jelas kepada siapapun untuk Pilgub Jabar,” tegas Abeb saat dihubungi.

Melihat situasi politik di tubuh Golkar yang masih menggantung seperti ini, lanjut dia, hal paling penting kader Golkar Sukabumi adalah menjaga soliditas di daerah, jangan sampai terjadi perpecahan. “Siapa pun calonnya kita tetap akan mendukungnya, kalau pun bukan Dedi Mulyadi, Kita tidak sampai pada ancaman mundur dari kader seperti yang terjadi di daerah lain,” pungkasnya.

Sementara itu Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Cirebon, Sunandar Priyowudarno mengatakan secara tegas pihaknya hanya akan mengikuti instruksi dari pusat.

“Selama itu menjadi kebijakan dan putusan DPP partai Golkar kita kader atau pengurus partai tk daerah harus menjaga. Memenangkan dan fatsun terhadap rekomendasi partai,” katanya.

Selain itu juga menurut Priyo, pihaknya berkeyakinan seluruh kader di daerah pun akan berpendapat sama dengan dirinya.

“Saya yakin semua kader di daerah berpendapat saya dengan saya ini bentuk loyalitas kader terhadap organisasinya,” katanya.

Share This

Leave a Reply