Pengalaman Tak Terlupakan Saat Menapaki Situs Batu Kuda hingga Puncak Gunung Manglayang

Oleh: Ridwan Alamsyah

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Udara dingin menyambut suasana pagi di Bumi Perkemahan Batu Kuda. Kabut tipis menghiasi hamparan rumput bak permadani luas.

Di depan mata, jutaan pohon pinus yang tertiup angin menyanyikan lagu alam. Ditemani segelas susu hangat yang juga menjadi bagian kekhasan tempat ini, menjadikan suasana pagi begitu sempurna.

Kawasan seluas sekitar 15 hektare ini merupakan Objek Wisata Situs Batu Kuda milik Perum Perhutani. Lokasinya sendiri berada di Desa Cikoneng I, Cibiru Wetan, Cileunyi Kabupaten Bandung.

Dengan ditunjang akses jalan yang memadai, wisatawan dapat langsung memarkirkan kendaraannya di areal pintu masuk Bumi Perkemahan Batu Kuda.

Selain keindahan bumi perkemahan dan Situs Batu Kuda, masih banyak terdapat situs batu yang dapat kita saksikan kemegahannya, seperti situs Batu Ampar, Batu Lawang, Batu tumpeng, dan Batu Keraton yang fenomenal.

“Situs Batu Kuda hanya berjarak 700 meter dari pintu masuk. Dengan jalur naik turun kita akan disambut hamparan Kota Bandung. Di sana ada sebuah batu berukuran besar, seukuran rumah dan menyerupai kepala seekor kuda. Konon katanya, kuda tersebut merupakan tunggangan Prabu Siliwangi yang selalu siap siaga,” ungkap Ahim, 35, warga setempat yang biasa menjadi guide dan memandu Jurnal Bandung memulai perjalanan seru ini.

Kurang lebih 50 meter dari situs tersebut, lanjut Ahim, ada situs lagi yaitu Batu Ampar yang sesuai dengan namanya. Batu seukuran bus tersebut bentuknya datar, sehingga bisa menjadi tempat untuk duduk-duduk santai.

“Jika kita memilih jalur yang tingkat kesulitannya menengah, kita akan diajak naik menuju puncak Gunung Manglayang. Dengan jalur yang terus menanjak kita akan bertemu situs Batu Lawang. Situs ini bentuknya seperti pintu gerbang dimana terdapat dua batu sebesar rumah berlantai dua berdiri berdampingan,” jelasnya.

Setelah melewati Batu Lawang, kita pun akan disambut oleh Situs Batu Tumpeng dimana batu tersebut berbentuk kerucut dan merupakan simbol rasa syukur.

“Setelah menelusuri jalan setapak yang cukup mendaki, sampailah ke Puncak II Gunung Manglayang dimana tempat itu merupakan dataran yang dirindangi pohon-pohon berusia ratusan tahun. Warga biasa menyebutnya Dataran.¬†Dataran ini sangat luas, luasnya sepertinya ratusan hektare karena bisa tembus sampai Oray Tapa,” ungkap Ahim.

Setelah puas menjelajah dengan bantuan Ahim, Jurnal Bandung akhirnya kembali turun dan berhasil menemukan Batu Keraton dimana trek menuju tempat itu sengaja tidak diperjelas. Alasannya, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan karena Batu Keraton diyakini memiliki fenomena lain.

“Barudak ayeuna sok teu sopan sareng sarompral,” ucap Ahim.

Batu Keraton memang luar biasa, dengan keliling kira-kira 100 meter, lempengan batu besar tersebut seperti menyeruak keluar dari tebing. Dengan ditopang oleh batu-batu yang lebih kecil ukurannya, sungguh tidak masuk akal karena lempengan batu tersebut tidak sampai terjatuh.

Di bawah lempengan batu tersebut, terdapat goa yang sering digunakan untuk ritual-ritual khusus. Namun, di luar orang memanfaatkannya, Batu Keraton memang begitu fenomenal. Ditambah berbagai macam tanaman yang tumbuh di atasnya, pemandangan alam luar biasa dapat kita saksikan jika berdiri di atas lempengan batu tersebut.

Perjalanan menuju puncak Gunung Manglayang tersebut dilakukan selama sekitar tiga jam. Berbekal sepatu hiking dan makanan ringan, kita akan disuguhkan pemandangan dan suasana baru yang tidak mungkin terlupakan dan tentu saja, badan pun menjadi sehat karena bisa berolahraga dan menghirup udara segar di tempat yang eksotis ini.

Leave a Reply