Para Wakil Rakyat Sesalkan Kicauan Menpora Terkait PON XIX

Oleh : Yuga Khalifatusalam
img-20160917-wa024
Foto istimewa
Jurnal Bandung – Para wakil rakyat merasa prihatin dengan kicauanĀ  Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Pasalnya, politisi dari PKB ini dianggap tidak pantas menyebut telah terjadi kecurangan dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat.
Dalam akun twitternya @imam_nahrawi pada Selasa (20/9/2016), menteri kabinet Presiden Joko Widodo ini mengatakan “Berjaya di Tanah Legenda”. Kejarlah kejayaan dg jalan yg benar. Jangan ‘Curang di Tanah Legenda”.

Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi olahraga, Otje Popong Djundjunan (Ceu Popong), menyayangkan cuitan Imam tersebut. Dia menilai, kalimat tersebut tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat sekelas menteri.

“Makanya kalau jadi seorang figur, sebaiknya tidak sembarangan bicara,” kata Ceu Popong usai menghadiri rapat kerja Komisi X DPR RI dengan Panitia Besar (PB) PON 2016 Jabar.

Kecurangan yang terjadi dalam gelaran PON ini belum terbukti, seharusnya lanjut Ceu Popong, seorang Pejabat tidak berkata yang tidak sesuai dengan fakta.
“Makanya kita harus tahu dari mana, di mana, siapa. Tapi saya malah baru dengar. Nanti, kalau memang itu serius, kemudian dengan data dan fakta yang ada, pasti tentu kan diangkat nanti dalam raker. Pasti itu. Tapi sekarang belum ada apa-apa,” ujarnya.

Ceu Popong pun meminta semua pihak agar berpikir positif dalam menyikapi berbagai persoalan pada PON saat ini. “Kita harus berangkat dari positif thinking. Jangan apriori. Sama dengan di bidang hukum, azas praduga tak bersalah. Walaupun mungkin salah, tapi kan harus ada proses sendiri,” paparnya seraya menyebut penilaiannya ini bukan berarti menutup-nutupi persoalan yang ada.

Oleh karena itu, lanjut Ceu Popong, Imam harus merangkul PB PON jika seandainya menemukan berbagai persoalan seputar PON 2016. “Kalaupun toh sudah punya fakta (kecurangan), seharusnya bicara resmi, dipanggil PB PON-nya. Sekarang itu ada fenomena, pada umumnya sok hayang geura ngomong di media. Apakah itu televisi, koran, kan ada fenomena begitu,” pungkasnya.

Share This

Leave a Reply