Meski Diprediksi Sama, Awal Ramadan dan Lebaran 2016 Berpeluang Beda

Oleh: Bayu Wicaksana

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Awal Ramadan dan perayaan Idul Fitri 2016 ini diprediksi akan bersamaan. Sebab, beberapa organisasi Islam menghitung awal bulan tersebut jatuh pada waktu yang sama.

Hal ini diungkapkan Ketua Badan Hisab Rukyat Cimahi Tubagus Hadi Sutiksna dalam Seminar Nasional Ilmu Falak di kampus Universitas Islam Bandung, Selasa (31/5). Dalam kesempatan itu, hadir sejumlah pemateri terkait ilmu tersebut.

Hadi yang juga pengajar Ilmu Falak Unisba mengatakan, berdasarkan penghitungan sejumlah ormas Islam dan unsur lainnya, awal Ramadan tahun ini jatuh pada 6 Juni mendatang.

Sejumlah metode penghitungan seperti hisab (perhitungan) maupun rukyat (pengamatan) menetapkan tanggal tersebut sebagai awal Ramadan.

“Tahun ini bulan bersahabat, untuk Ramadan dan Syawal kita akan bersamaan,” kata Hadi yang juga anggota Sidang Isbat di Kementerian Agama.

Hadi menuturkan, perbedaan yang selama ini terjadi bukan dikarenakan metode hisab dan rukyatnya. Perbedaan waktu ini terjadi karena adanya sejumlah kriteria yang diyakini.

“Ada beberapa ormas yang punya kriteria. Muhammadiyah wujudil hilal, berapa derajat saja positif,” katanya.

Dia menjelaskan, di dalam Alquran, rukyat itu tidak selalu identik dengan melihat secara langsung.

“Melihat hilal tidak hanya bisa dengan mata telanjang, tapi bisa dengan hitungan,” terangnya.

Menurutnya, meski sudah ada, wujud hilal tidak selalu bisa terlihat. Salah satunya akibat bentuk bumi yang bulat.

“Berapa tinggi derajat hilal di atas ufuk menurut hitungan. Akan tetapi bisa secara astronomi, wujudnya belum ada, belum terlihat. Salah satunya karena bumi yang melengkung, tidak lurus,” jelasnya.

Terlebih, saat ini derajat untuk mengukur hilal pun sudah diturunkan dari empat derajat menjadi dua derajat.

“Kriteria ahli rukyat sudah lebih rendah, minimal dua derajat. Pemerintah sebagai penengah menentukan imkan rukyat, feasibility hilal berpeluang dapat dilihat. Pemerintah menetapkan dua derajat. Jika tanggal 5 (Juni) hilal lebih besar dua derajat, maka tanggal 6-nya puasa,” bebernya.

Meski begitu, dia tidak menampik adanya peluang perbedaan awal Ramadan dan Syawal. Sebab, masih ada ormas Islam yang menentukan kriteria hilal empat derajat.

“Kemungkinan puasanya Selasa tanggal 7,” ujarnya.

Meski begitu, dia meminta masyarakat tidak mempersoalkan perbedaan tersebut.

“Pemerintah juga memberikan ruang untuk adanya perbedaan itu. Dan ini memang hal yang biasa,” pungkasnya.

Share This

Leave a Reply