Lewat Endowment TF, Give Back ke Kampus Terasa Lebih Nyata

Oleh: Muhammad Sufyan Abd

Foto Redaksi
Foto Redaksi

Jurnal Bandung – Jika ditanyakan dua afiliasi sekolah yang melekat di benak, jawaban kebanyakan adalah bangku SMA dan bangku kuliah. Sejauh jangkauan dan pencapaian, siapapun orangnya, takkan lupa akar (apalagi kenangan asmara) pada kedua jenjang pendidikan tersebut.

Apalagi dalam suasana Ramadan sekarang, frase reuni menjadi demikian familiar dan pantang ditolak. Akan tetapi, reuni sekedar melepas kangen tentu kurang optimal. Terlebih, pelbagai aplikasi pesan instan eksisting sejatinya sudah demikian mengikis rentang kekangenan, nostalgia, bahkan CLBK puluhan tahun silam. Tak perlu bertemu langsung, apalagi memang sudah terpencar di banyak kota, kalau sekedar reuni kawan SMA dan atau kuliah silam.

Berangkat dari salah satu pemikiran itulah, Yayasan Pendidikan Telkom (Telkom Foundation/TF) berelaborasi dengan wadah alumninya, Forum Alumni Universitas Telkom (FAST) serta Telkom University (TelU) meluncurkan aplikasi berbasis Android bertajuk Endowment TF di sebuah hotel di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (21/6) malam.

Melaluinya, mengacu pengalaman penulis, kurang dari semenit Anda sudah bisa mengenang kampus dengan lebih padat-berisi. Donasi mulai dari Rp50.000 telah bisa dikirimkan hanya dalam genggaman, tanpa perlu beranjak kota, sehingga kekangenan kepada kampus jelas lebih berkualitas dan lebih konkrit dilakukan.

Aplikasi ini juga terhubung langsung dengan dua institusi finansial bereputasi kuat dan terpercaya, yakni Bank Mandiri dan Finnet. Dan, bukan hanya transfer berbasis debit yang bisa dilakukan, namun juga kredit sehingga leluasa pilihannya. Transparansi juga diagungkan karena notifikasi akan dikirimkan kepada kotak surat elektronik Anda.

Menurut Ketua Yayasan Pendidikan Telkom Dwi Sasongko Purnomo, saat peluncuran aplikasi, proses penggalangan dana pendidikan atau
endowment memiliki peran vital dan mendesak di sebuah entitas pendidikan. Ketika TelU, salah satu perguruan tinggi di bawah yayasan tersebut, mengajukan akreditasi internasional, pertanyaan terkait langsung muncul.

“Saat TelU ajukan akreditasi internasional selevel ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology,red), pihak sana menanyakan endowment seperti apa. Berarti penggalangan dana pendidikan adalah proses penting yang sudah terbentuk kokoh pada pendidikan di negara maju,” katanya saat memberikan sambutan.

Menurut dia, situasi itu sejalan dengan filosofi dan keniscayaan global bahwa pendidikan (apalagi swasta) takkan bisa menopang dirinya pada sekedar
tuition fee alias pembayaran konvensinal bea pendidikan bulanan/semester dari orangtua siswa, tapi juga harus mampu bertumpu pada
non tuition fee, salah satunya penggalanan dana dari alumnusnya.

Dwi mengatakan, alumni dan siswa masih banyak yang malah meminta sokongan pendidikan atau sponsor dari induk lembaga pendidikan seperti yayasan pendidikan. Situasi ini harus diubah signikan, justru sebaliknya alumni yang harus didorong saling berlomba menyumbang kepada kampus yang telah membesarkannya.

Ahmad Nugraha Rahmat, Presiden FAST, yang juga alumni Teknik Informatika TelU menambahkan, ketika sudah memperoleh pencapaian sekecil apapun, alumni sudah selayaknya give back kepada kampus. Ungkapan terima kasih jelas akan lebih riil manakala diberikan dalam bentuk sumbangan dana dimana kondisi di lapangan memang diperlukan, apapun lembaga pendidikannya.

Menurut dia, suasana Ramadan malah kerap dihiasi buka bersama (bukber) alumni kuliah. Mulai dari satu angkatan, satu kepengurusan, satu regional, hingga alumni satu tempat kerja. Hal tersebut menegaskan masih kuat rasa kepemilikan kepada almamater, namun harus didorong dengan sumbangan nyata, yang salah satunya bisa melalui aplikasi tersebut.

Endowment TF sendiri dibuat oleh salah seorang alumni TelU, yakni Raden Rogers. Dengan diarahkan Direktorat Higher Education YPT, dia cukup singkat membangun aplikasi yang terbagi atas dua interface utama tersebut. Untuk tahap awal, dengan mengacu populasi pengguna, aplikasi Android dahulu untuk menyusul untuk iPhone.

Saat pemaparan, Roger meminta sejumlah peserta buka bersama malam itu masuk ke Google Play dan mengetik “Endowment TF.” Setelah muncul, aplikasi dengan review eksisting bintang lima itu tinggal kita unduh dalam hitungan detik. Dan, jika sudah menjadi aplikasi di layar ponsel cerdas Anda, proses pun demikian mudahnya.

“Siapapun tak perlu registrasi terlebih dahulu untuk bisa gunakan aplikasi. Form awal memperlihatkan data donasi terdiri dari nama, nomor ponsel, alamat email, dan nominal donasi. Setelah itu, ada pertanyaan donasi tiap bulan serta metode pembayaran, apakah transfer ke rekening Bank Mandiri di YPT atau ke Finnet,” jelasnya.

Mengapa proses semudah itu? Dwi Sasongko Purnomo dan Rogers, keduanya menegaskan, tentang kepraktisan perangkat lunak yang membuat orang terdorong menyumbang demikian cepat dan mudah. Apalagi, dari sisi keamanan, antisipasi sudah dilakukan, antara lain dengan adanya isian bahwa pengirim bukan robot.

Setelah mengisi isian awal ini, pengguna akan diberikan opsi “Lanjutkan”. Dan, di antarmuka berikutnya, akan muncul data berbasis isian awal, seperti nomor donasi, metode pembayaran, nominal donasi, dan kode unik. Tak ketinggalan ada tanggal
expire, sehingga keseriusan penyumbang sebetulnya sudah disortir sejak dini. Jika lewat, akan batal sendirinya.

Jika di halaman ini sudah rampung, maka tinggal pilih opsi “Selesai”. Setelahnya, akan muncul informasi ucapan terima kasih sudah donasi lengkap dengan data terkait, yakni laman (telkomfoundation.or.id/endowment), email (endowment@telkomfoundation.or.id), serta nomor ponsel penanggung jawab. Jadi, jika ada apa-apa, jalur pertanggungannya jelas.

Akhirnya, ikhtiar kecil membangun pendidikan ini masih berproses, masih perlu waktu sejauh mana efektivitasnya. Akan tetapi, pesannya kuat. Apabila jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 678 (data BPS tahun 2014) dengan puluhan juta siswa dan alumni dan semua terdorong give back ke almamaternya melalui aplikasi ponsel cerdas yang praktis, bisa dibayangkan betapa cepatnya pendidikan Indonesia terkatrol.

*) Penulis, Muhammad Sufyan Abd, alumni sekaligus Dosen Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University.

Leave a Reply