Lahan Sawah di Kota Bandung Terancam Punah

Oleh: Ridwan Farid

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Gencarnya pembangunan di Kota Bandung membawa dampak buruk terhadap semakin berkurangnya areal persawahan. Padahal, keberadaan lahan sawah sangat penting terjaga untuk menopang ketahanan pangan di sebuah wilayah.

Diprediksi, lahan sawah di Kota Bandung akan terus menyempit. Bahkan, dalam empat tahun ke depan, Kota Bandung terancam tak lagi memiliki areal persawahan.

Luas areal sawah di Kota Bandung tercatat terus menyempit sekitar 30-40 hektare setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung, luas areal sawah di Kota Bandung pada 2009 lalu tercatat sekitar 1.300 hektare, namun kini hanya sekitar 1.100 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Bandung Elly Wasliah menuturkan, berkurangnya lahan sawah di Kota Bandung terutama disebabkan alih fungsi lahan yang sporadis.

Berdirinya permukiman-permukiman dan bangunan-bangunan komersial baru ditenggarai menjadi faktor utama penyempitan luas lahan sawah di Kota Bandung.

“Memang diakui bahwa sebagai ibu kota metropolitan, lahan sawah memang berkurang. Banyak lahan sawah yang beralih fungsi menjadi permukiman dan bangunan-bangunan baru,” ungkap Elly kepada Jurnal Bandung di Balai Kota Bandung, Senin (7/4).

Kondisi ini, lanjut Elly, berbanding terbalik dengan tingginya kebutuhan beras warga Kota Bandung. Berdasarkan data Distan KP Kota Bandung, kebutuhan beras warga di Kota Bandung mencapai 750 ton per hari. Hampir sebagian besar pasokan beras dipenuhi dari sentra-sentra beras dari luar Kota Bandung.

“Kontribusi beras dari Kota Bandung sendiri kini hanya di kisaran 4%. Jadi  96% dipasok dari daerah lain,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya terus berupaya untuk mengimbangi tingginya alih fungsi lahan dengan meningkatkan produktifitas hasil padi dari enam sentra beras di Kota Bandung yakni Cibiru, Gedebage, Ujungberung, Cinambo, Rancasari, dan Panyileukan.
“Selain itu, kami pun telah mencanangkan program one day no rice (satu hari tanpa nasi). Melalui program ini diharapkan memberikan pemahaman kepada masyarakat Kota Bandung bahwa beras ini bukan satu satunya komoditas sebagai sumber asupan karbohidrat,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Sobirin Supardiono mendesak Pemkot Bandung untuk segera memperluas kawasan lahan sawah abadi.

Menurutnya, jika hal tersebut tidak segera dilakukan, pihaknya khawatir lahan sawah di Kota Bandung terancam punah.

“Kalau begini terus, dalam empat tahun mendatang lahan sawah di Kota Bandung bisa habis,” tandasnya.

Share This

Leave a Reply