Kemarau Basah, Aher Optimistis Produktivitas Padi di Jabar Meningkat

Oleh: Bayu Wicaksana

Foto istimewa
Foto istimewa

Jurnal Bandung – Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menargetkan, produksi padi Jawa Barat akan meningkat pada 2016 ini.

Meski tidak menyebut angka, Heryawan optimistis jumlah padi yang dihasilkan akan lebih banyak dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, kondisi cuaca pada tahun ini sangat berpotensi meningkatkan produktivitas padi. Kemarau basah yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia menjadikan petani bisa menanam padi setiap waktu. Kondisi ini berbeda dengan 2015 lalu karena banyak petani gagal panen yang diakibatkan gejala el nino.

“Dampak kekeringan 2015 kan terbesar di Jabar, itu yang menyebabkan produksi padi Jabar turun, 200.000 ton turunnya. Sekarang 2016 naik lagi, naiknya lompat,” ungkap Heryawan saat menghadiri Rapat Koordinasi Pertanian, di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (20/7).

Rakor tersebut dihadiri langsung Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Selain pengaruh cuaca, Gubernur yang akrab disapa Aher itu menilai, peningkatan produktivitas padi di Jabar pun didukung oleh mulai beroperasinya Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang.

Meski belum beroperasi sepenuhnya, kata Aher, keberadaan waduk tersebut akan mampu memenuhi kebutuhan irigasi persawahan.

“Jadi ada tambahan jaminan soal tanam dan panen,” katanya.

Sehingga, lanjut Aher, frekuensi panen pada tahun ini akan meningkat dari dua menjadi tiga kali. Jika biasanya dua kali, saat ini petani dimungkinkan untuk menanam padi tiga kali. Usai memanen pun, petani tidak memerlukan waktu yang lama untuk menanam kembali padi.

“Kalau 20 hari jeda, itu bisa dipastikan tiga kali panen per tahun. Kalau tiga kali, pasti (produktivitas padi) meningkat,” katanya.

Selain itu, Aher berharap, masa tanam dan panen ini terjadi pada tahun yang sama. Hal tersebut akan menjadikan pencatatan produktivitas padi lebih akurat dalam setiap tahunnya.

“Maka kemudian tidak ada panen yang nyebrang ke tahun berikutnya. Yang bikin produksi turun itu ya ini. Tanamnya 2015, panennya 2016, enggak kehitung di 2015 kan,” katanya seraya menyebut, penambahan frekuensi panen ini diupayakan di seluruh lahan persawahan di Jabar, tidak hanya di kawasan utara saja.

Sementara itu, Asisten Daerah Pemprov Jabar Deny Juanda mengatakan, untuk meningkatkan frekuensi panen, diperlukan varietas padi baru. Selain jenis padi yang bisa dipanen dalam waktu yang lebih singkat, varietas baru ini pun harus lebih kuat.

“Cari varietas baru yang bisa tahan tergenang air lebih dari dua minggu. Kan sekarang (varietas yang ada) mah mati,” katanya.

Menurut Deny, saat ini, IPB dan Unpad terus melakukan riset untuk menemukan padi varietas baru yang diharapkan tersebut.

“Riset pertanian terus dilakukan,” pungkasnya

Leave a Reply