Kebun-kebun Strawberry Rusak, Kabupaten Bandung Terancam Kehilangan Ikon Wisatanya

Oleh: Dadan Burhan AA

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Siapa yang tak kenal dengan buah strawberry? Warnanya yang merah ranum membuat siapapun pasti tertarik untuk mencicipinya. Strawberry pun sejak lama dikenal sebagai salah satu ikon wisata Kabupaten Bandung.

Di sepanjang jalan menuju kawasan wisata Kabupaten Bandung, tepatnya di Pasirjambu, Ciwideuy, hingga Rancabali (Pacira), berjejer kebun-kebun strawberry. Masyarakat setempat pun menjadikannya sebagai daya tarik wisata. Wisatawan bisa memetik sendiri strawberry dan langsung menikmatinya di kebun.

Namun, belakangan, kebun-kebun Strawberry di kawasan Pacira mulai rusak. Diduga, kerusakan tersebut terjadi akibat kejenuhan genetik serta serangan penyakit berupa nematoda, jamur, bakteri, hingga virus.

Hal itu diakui Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung Tisna Umbaran. Di antara penyebab kerusakan, kata Tisna, akibat penggunaan media tanam pohon strawberry yang tidak pernah diganti setelah dipakai bertahun-tahun. Akibatnya, tanaman strawberry rentan terserang penyakit atau hama.

“Sejak tahun 80-an, strawberry mulai ditanam di Pacira. Sejak saat itu, bibitnya terus dikembangbiakkan. Dengan cara vegetatif ini, keuntungannya memang adaptasi tanaman lebih baik, tapi kerugiannya bisa saja ada kejenuhan genetik,” jelas Tisna kepada jurnalbandung.com di kompleks perkantoran Pemkab Bandung, Rabu (2/3).

Sejumlah upaya untuk mengatasi persoalan itu, lanjut Tisna, sudah dilakukan, salah satunya pengadaan bibit strawberry baru. Hal itu dilakukan untuk mengatasi permasalahan rusaknya kebun-kebun strawberry di Pacira.

Bahkan, pihaknya juga telah meminta Balai Perlindungan Tanaman dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat untuk turun tangan. Sampel pohon dan media tanam strawberry yang bermasalah pun telah diteliti dan segera diekspose.

“Kami dalam waktu dekat ini akan mengundang para tokoh pertanian strawberry sebagai upaya untuk mendengarkan penjelasan, mengenai penyebab rusaknya tanaman strawberry itu dari hasil penelitian balai. Kemudian akan dikemukakan juga bagaimana solusinya,” beber Tisna.

Tisna mengungkapkan, sekitar enam tahun ke belakang, dilakukan pula program kerja sama dengan USAID dan Universitas Padjadjaran untuk mengatasi permasalahan seputar pertanian strawberry dan pengembangan pertanian strawberry di Pacira. Saat itu, potensi pertanian strawberry di Pacira mencapai 420 hektare.

“Kami pun bekerja sama dengan Korea Selatan untuk mendapat bibit baru. Pernah diuji coba, tapi tidak cocok. Anggaran tahun ini ada untuk menyediakan 7.500 bibit pohon strawberry, untuk selanjutnya dikembangkan di seluruh Pacira,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung, produksi strawberry di Kabupaten Bandung pada 2014 mencapai 51.000 ton. Sedangkan pada 2015, jumlahnya anjlok hampir separuhnya dari tahun sebelumnya, yakni 27.000 ton.

“Memang dibutuhkan komunikasi yang kuat antara petani dengan pemerintah untuk meningkatkan produksi strawberry ini. Kami pun dari dulu berusaha terus mempertahankan pertanian strawberry yang jadi ikon Kabupaten Bandung ini, di antaranya dengan pemurnian benih,” ungkapnya seraya mengatakan, perawatan tanaman strawberry membutuhkan keahlian khusus dan ketelitian.

Penurunan produksi strawberry ini pun, kata Tisna, disebabkan upaya penyegaran yang dilakukan para petani, yang menanami lahannya dengan sayuran, sebelum menanam kembali strawberry.

Leave a Reply