Kalah Bersaing dengan Moda Transportasi Online, Sopir Angkot Minta Perhatian Gubernur

Oleh: Yuga Khalifatusalam

Jurnalbandung.com – Merasa kalah bersaing dengan moda transportasi online, ribuan sopir angkutan kota (angkot) berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung.

Dalam aksinya tersebut, mereka meminta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memberi perhatian terhadap nasibnya. Pasalnya, eksistensi angkutan umum kini mulai tergerus oleh moda transportasi online.

Ketua Kobanter Jabar Dadang Hamdani mengungkapkan, semakin hari, moda transportasi online ini semakin merajai dunia transportasi. Padahal, keberadaan moda transportasi online ini sudah ditolak oleh para pengusaha transportasi.

“Benturan di lapangan pun sering sekali terjadi karena adanya persaingan tidak sehat antara transportasi umum konvensional dan transportasi online,” ungkap Dadang di sela-sela aksi unjuk rasa, Kamis (9/3).

Oleh karenanya, Dadang menegaskan, Kobanter Jabar menolak pemberlakuan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32/2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

Menurutnya, aturan tersebut dibuat agar para pengusaha moda transportasi online, seperti Go-Jek, Grab, dan Uber memiliki acuan untuk menjalankan usahanya.

Dadang juga meminta pemerintah pusat kembali kepada Undang-undang Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yang salah satunya mewajibkan para pengusaha moda transportasi umum untuk menggunakan pelat kuning.

“Selain menolak angkutan berbasis aplikasi dan berpelat hitam, kami juga meminta Gubernur Jawa Barat untuk mendukung aspirasi yang kami sampaikan dan meneruskannya kepada pemerintah pusat,” terang Dadang.

Kobanter juga meminta untuk dilibatkan dalam setiap perumusan aturan moda transportasi di luar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 agar dapat menyampaikan keberatan jika ada aturan yang berpotensi merugikan mereka.

“Supaya ke depannya tidak ada persoalan lagi. Kami juga meminta Kapolda Jabar untuk segera menindak tegas para sopir transportasi berbasis aplikasi yang dianggap ilegal ini,” tandasnya.

Share This

Leave a Reply