Janda Tiga Anak Ini Edarkan Ganja dan Sabu Dalam Bungkus Permen dan Makanan Ringan

Oleh: JB-05

foto net
foto net

Jurnal Bandung – Dengan dalih terdesak faktor ekonomi, Wati, 32, janda beranak tiga ini mengaku terpaksa mengedarkan narkoba jenis ganja dan sabu.

Untuk mengelabui polisi, Wati mengemas ganja dan sabu tersebut menggunakan bungkus permen dan makanan ringan.

“Sabu dijual dengan menggunakan bungkus permen,” ujar Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol didampingi Kasatresnarkoba Polrestabes AKBP Nugroho Haryanto kepada Jurnal Bandung, di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin (4/5).

Terungkapnya kasus ini, lanjut Yoyol, berawal dari laporan warga yang menemukan dua paket ganja seberat dua kilogram yang tergeletak di depan sebuah rumah yang digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), di Jalan Budi, Kota Bandung, Jumat (1/3) lalu.

“Saat libur panjang, anggota Satresnarkoba Polrestabes Bandung melakukan operasi. Setelah itu, Polsek Cicendo melakukan pengecekan terhadap seorang perempuan yang dicurigai sebagai pemilik ganja. Polsek Cicendo bersama Satresnarkoba Polrestabes Bandung langsung mengamankan dan menginterogasi Wati,” tutur Yoyol.

Kepada polisi, lanjut Yoyol, Wati mengaku mendapatkan ganja dan sabu dari seorang lelaki berinisial S alias Ayah yang kini tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO). Barang haram tersebut biasa diambil Wati di bawah jembatan Cimindi, perbatasan Kota Bandung-Cimahi.

“Wati ini baru mengedarkan sabu atau ganja di tempat penemuan ganja tersebut setelah S melakukan transaksi dengan pembeli atau pemesan,” ungkapnya.

Dari tangan Wati, polisi pun menyita barang bukti berupa empat paket ganja kering seberat 4 ons yang ditemukan di rumah kostnya, di Jalan Budi.

Selain itu, polisi juga mengamankan satu unit timbangan digital, tiga bungkus plastik yang diduga untuk menyimpan sabu, 15 lembar alumunium foil, dan buku tabungan yang digunakan Wati untuk menerima upah dari S.

Polisi juga mengamankan enam sedotan plastik, 20 bungkus bekas permen, dan 25 bungkus bekas makanan ringan untuk mengemas ganja dan sabu tersebut.

Atas perbuatannya, Wati akhirnya dijerat pasal 111 ayat 2 dan pasal 114 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika. Dia pun terancam hukuman penjara maksimal hingga 20 tahun.

Sementara itu, dalam pengakuannya, Wati mengaku nekat menjalankan bisnis haram ini akibat desakan ekonomi. Dia mengatakan, ganja dan sabu tersebut diterimanya dari seorang teman yang enggan disebutkannya.

Wanita yang telah berpisah dengan suaminya enam tahun lalu ini juga mengaku belum pernah bertemu dengan orang yang mengirimi barang haram tersebut.

“Saya tidak pernah ketemu dengan orang itu karena saya kenalnya juga dari teman ketika saya mencari pekerjaan. Saya kenalan juga hanya lewat ponsel dan dia langsung menawarkan pekerjaan ini,” tuturnya.

Diakui Wati untuk mengelabui polisi, dirinya menjual ganja dan sabu yang sudah terbungkus rapi dalam bungkus permen dan makanan ringan.

“Untuk bungkus permen isinya 1 gram sabu, sedang untuk makanan ringan itu dibuka sedikit. Isinya dibuang kemudian diisi sabu-sabu dengan berat dua gram atau ganja. Setelah itu sobekannya dilem,” aku Wati.

Barang haram yang telah dikemas rapi tersebut lantas dijualnya dengan sistem tempel.

“Biasanya disimpan di sebuah tempat sampah. Nanti yang beli tinggal ambil di tempat sampah itu. Itu juga setelah saya dapat perintah dari seseorang yang punya barang itu karena saya hanya ketitipan saja untuk menempel barang-barang itu kalau ada yang beli,” terangnya.

Wati mengaku baru enam bulan menggeluti bisnis haram ini. Setiap transaksi, dirinya menerima upah sebesar Rp400 ribu setiap bulannya. Uang tersebut digunakan Wati untuk membiayai kebutuhan ketiga anaknya.

“Uangnya buat makan, sekolah anak,” ucapnya.

Share This

Leave a Reply