Jalanan di Kota Bandung Dianggap Belum Ramah Bagi Disabilitas

Oleh: Redaksi

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Infrastruktur jalan bagi penyandang disabilitas di Kota Bandung dinilai masih sangat minim. Hal ini terlihat dari sejumlah ruas jalan maupun trotoar yang kurang ramah bagi kaum difabel seperti tunanetra maupun cacat kaki.

Sekretaris Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kota Bandung Nunung Yulia mengatakan, yang sangat diperlukan saat ini adalah akses jalan yang memudahkan kaum disabilitas.

Menurutnya, Kota Bandung belum bisa memberikan fasilitas ruas jalan yang ramah bagi kaum disabilitas, terutama bagi mereka yang tunanetra maupun cacat fisik dalam berjalan.

“Masih sangat sedikit jalan yang bisa diakses mudah oleh difabel. Untuk itu, tahun 2015 ini, kami menggaet Dinas bina Marga Kota Bandung untuk turut mengkomunikasikan kebutuhan akses jalan ini,” terang Nunung dalam keterangan tertulis yang diterima Jurnal Bandung, Kamis (30/4).

Diakuinya, di beberapa pelayanan publik seperti Puskesmas, sudah ada insfrastruktur jalan yang memudahkan untuk akses kaum disabilitas. Bahkan, dalam pembangunan gedung pelayanan publik, pemerintah seharusnya mewajibkan adanya kemudahan akses tersebut.

“Bahkan ada peraturan daerah (perda) yang mewajibkan bahwa pembangunan gedung pelayanan publik pun harus bisa mempermudah aksesibilitas penggunaan layanan tersebut bagi difabel,” ujarnya.

Dalam program RBM, pihaknya terus mengupayakan kemudahan aksesibilitas di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan keterampilan. Menurutnya, program RBM memang salah satunya untuk memandirikan para disabilitas, baik mandiri dalam mengurus diri maupun menghidupi dirinya sendiri. Keberadaan akses jalan yang ramah bagi kaum difabel dianggap mendukung proses kemandirian difabel.

Lebih jauh Nunung menyebutkan, dari 5.701 difabel di Kota Bandung, kata Nunung, 2.305 di antaranya sudah mendapatkan layanan program RBM.

Diakuinya, jumlah ini masih sedikit dibandingkan jumlah total difabel yang ada di kota Bandung. Program ini juga sudah menjangkau 30 kecamatan yang ada di Kota Bandung, dengan jumlah kader mencapai1.575 kader yang bergerak sebagai tenaga sukarelawan. Di setiap RW-nya ada sekitar 2-3 orang kader, hal ini tergantung dari jumlah difabel yang ada di kawasan tersebut.
Menurutnya, kini orang tua yang memiliki anak atau keluarga difabel sudah mulai terbuka dan mau bersama-sama diajak untuk melatih kemandirian. Akan tetapi, diakuinya, jangkauan pelayanan yang sudah ada pun masih minim.

Untuk itu, pihaknya terus membentuk kader-kader sukarelawan untuk terus membantu. Terlebih, salah satu kendala besar yang dihadapi, kata Nunung, yakni mempertahankan sikap kerelawanan dari para kader.

“Kini 70% kader RBM usianya sudah lebih dari 50 tahun. Untuk itu diperlukan peran serta generasi muda untuk turut membantu dan mengembangkan program ini,” tandasnya.

Share This

Leave a Reply