IA ITB Perlu Melihat Penanganan Bencana Sebagai Program Kontinu Bukan Sebatas Adhoc

Jurnal Bandung.com – Bencana alam sangat sering terjadi di Indonesia. Meskipun kejadiannya tak bisa diduga sebelumnya, namun potensi terjadinya bencana merupakan keniscayaan mengingat Indonesia yang berada pada Ring of Fire yang rawan bencana. Itulah sebabnya, penanganan bencana tidak bisa sekedar dilakukan ketika bencana itu terjadi. Hal ini terangkum dalam diskusi Kolaborasi Alumni ITB Atasi Bencana yang diselenggarakan oleh Wakaf Salman ITB pada Kamis (4/3/2021) secara daring.

“Perlu program kontinu dalam menghadapi potensi bencana, mulai dari pencegahan, mitigasi, persiapan, respon ketika bencana, pemulihan, balik lagi ke pencegahan” ujar Jalu, alumnus Teknik Industri 2002 yang juga Wakil Ketua IA ITB Jabar. Jalu mencontohkan langkah IA ITB Jawa Barat yang turut mendorong kolaborasi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten dalam urun rembug kebijakan pencegahan bencana hingga kolaborasi antar elemen ketika bencana terjadi.

Hal senada juga disampaikan oleh DR Heri Andreas atau yang lebih sering dikenal sebagai detektif gempa. “Ikatan Alumni tidak cukup hanya memberikan bantuan seperti perahu karet dan instalasi air bersih namun juga harus mampu mendorong perubahan peraturan perundangan” ujar akademisi fakultas ilmu dan teknologi kebumian ITB ini. DR

Ahli Mitigasi Bencana Geologi dari ITB, DR Surono turut menguatkan pentingnya political will dalam penanggulangan bencana. Peneliti Vulkanologi yang biasa dipanggil Mbah Rono ini mengatakan bahwa selama ini pemerintah kurang mendukung upaya riset kebencanaan. “Padahal penelitian ini sangat penting dilakukan guna mengantisipasi kehadiran bencana dan bagaimana cara penanganannya” tambah beliau.

Sementara itu, Peneliti di Kementerian Kelautan dan Perikanan, DR Anastasia Tisiana memprediksikan bahwa ancaman bencana di Indonesia tidak hanya aktivitas vulkanik namun bencana terkait perubahan iklim yang akan semakin sering terjadi. “Letak kepulauan Indonesia membuat rentan cuaca yang dipengaruhi iklim di samudra pasifik maupun samudra hindia”. Ujar Anastasia. Itulah sebabnya, beragam pihak perlu memperhatikan potensi bencana yang ada secara terus menerus.

Gembong Primadjaja selaku calon Ketua IA ITB menyambut masukan-masukan terkait penanggulangan bencana. Gembong juga berkomitmen menjadikan kebencanaan sebagai bidang tersendiri dalam kepengurusan IA ITB ke depannya. “IA ITB dapat melakukan yang lebih baik dalam menangani bencana dengan berkolaborasi secara bersama-sama” ujar alumni Teknik Mesin angkatan 1986 ini.

Acara ini ditutup dengan adanya penyerahan bantuan wakaf bencana dari Gembong Primadjaja senilai Rp 25 juta kepada Wakaf Salman ITB. Wakaf ini nantinya akan digunakan dalam membuat mobil instalasi air bersih yang digunakan sewaktu bencana.

Leave a Reply