Hijaukan Hulu Sungai Cimanuk-Citarum, KLHK Akan Sebar Benih Pohon Lewat Udara

Oleh: Bayu Wicaksana

Jurnalbandung.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelontorkan dana hingga Rp320 miliar untuk mengatasi kerusakan di tiga kawasan hulu sungai, yakni hulu Sungai Cimanuk dan Citarum di Provinsi Jawa Barat serta hulu Sungai Sari di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kerusakan hulu sungai di tiga lokasi tersebut dinilai memprihatinkan. Hal itu ditandai peristiwa banjir bandang di daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk dan Sari, belum lama ini.

Menurut Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK Hilman Nugroho, KLHK dibantu unsur negara lainnya, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, PT Perhutani, dan pemerintah daerah akan merehabilitasi hutan dan lahan yang berada di kawasan hulu sungai tersebut. Program penanaman pohon di atas lahan seluas 34.000 hektare ini akan dilakukan selama tiga tahun.

“Luasannya DAS Cimanuk dan Citarum 28.000-an hektare, kemudian di DAS Sari 6.000-an hektare. Rutin menggunakan APBN kita,” ungkap Hilman seusai rapat tindak lanjut penanganan pascabencana di DAS Cimanuk dan Citarum, di Bandung, Rabu (11/1).

Dalam rapat tersebut, hadir juga Gubernur Jabar Ahmad Heryawan serta para kepala daerah wilayahnya dilintasi sungai tersebut.

Pada tahun pertama, lanjut Hilman, pihaknya akan melakukan penanaman serta membuat sumur resapan. Sedangkan pada tahun kedua dan ketiga akan dilakukan perawatan terhadap hasil penanaman tersebut.

Dia menjelaskan, jenis tanaman yang akan ditanam akan disesuaikan dengan kondisi lahan serta rekomendasi warga sekitar.

“Tapi di daerah tinggi tidak diberikan rekomendasi albasiah. Itu sesuai dengan jenis endemik. Di kawasan konservasi kita dorong (jenis) yang sudah ada di sana, tak boleh berubah,” jelasnya.

Nantinya, penanaman akan dilakukan dengan sistem penebaran benih dari udara menggunakan pesawat. Namun, menurutnya, hal itu tidak bisa dilakukan awal tahun ini karena harus menunggu musim hujan tiba terlebih dahulu.

“Sekarang kan mau kemarau, paling nanti September,” katanya seraya menyebut perbaikan ini dilakukan di dalam maupun luar kawasan hutan.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan pengerjaan fisik seperti pembuatan sumur resapan.

Dia memastikan, perbaikan ini akan diiringi dengan pengawasan yang ketat agar hasilnya maksimal. Pihaknya akan membentuk tim yang bertugas menilai dan mengawasi pengerjaan tersebut.

“Diikuti sampai tiga tahun, sampai harus jadi dulu (penanamannya),” pungkasnya.

Share This

Leave a Reply