Hasil Survey Meroket, Ini Tanggapan Cawagub Dedi Mulyadi

Oleh : Yuga Khalifatusalam

Jurnalbandung.com – Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Litbang Kompas pasangan Cagub / Cawagub Jabar Deddy Mizwar – Dedi Mulyadi menempati posisi pertama. Dedi Mulyadi tidak kaget dengan hasil survey tersebut, menurut dia selama ini yang dilakukan oleh dirinya untuk kampanye berbeda dengan lawan-lawan politiknya.

“Metodologi kampanye saya itu berbeda dengan orang pada umumnya, saya lebih cenderung memberikan pelayanan dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung,  apa yang bisa saya perbuat, saya perbuat ketika saya keliling,” katanya saat ditemui, di Bandung, Rabu (14/3).

Berdasarkan data Litbang Kompas, pasca Debat Publik yang dilakukan pada Senin (12/3/2018) di Sabuga, Kota Bandung,  pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi unggul 42,8 persen suara, disusul pasangan Ridwan Kamil (Emil)-Uu Ruzhanul Ulum (Uu) yang memperoleh 39,9 persen suara.

Kemudian, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) meraih 7,8 persen dan pasangan Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) menggaet 3,1 persen. Sedangkan 6,4 persen responden tidak menjawab atau rahasia.

Dia tidak mau jumawa terhadap hasil survey tersebut. Menurut dia, didalam hatinya masih kalah dengan pasangan lain, dengan begitu lanjut dia lebih memotivasi agar kerja lebih keras lagi sehingga mendapatkan hasil yang maksimal.

“Saya masih merasa tertinggal, karena masih merasa tertinggal maka kita harus bekerja keras,” katanya.

Pihaknya akan terus melakukan komunikasinya dengan berbagai pihak, utamanya mengunjungi masyarakat setiap harinya dengan memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah yang ditemui di masyarakat.

“Saya mengunjungi masyarakat setiap hari, memberikan solusi yang terbaik untuk masyarakat saat ada masalah, satu masalah tiga ribu solusi, ” katanya.

Sementara itu, ia juga mengakui tidak membuat program kerja dengan penamaan istilah seperti calon lainnya. Pasalnya, pihaknya menilai seringkali saat membuat program dengan banyak istilah, maka akan semakin kosong program tersebut.

“Kebiasaan kita dalam membuat program pembangunan kita buat istilah, istilah-istilah itu tidak substansial, saya sampai hari ini tidak mau banyak buat buat istilah, yang penting bekerja saja dirasakan oleh masyarakat, sehingga sering kali kita terlalu genit terhadap istilah, tapi targetnya tidak tercapai,” katanya.

Share This

Leave a Reply