Hari Air Dunia ke-26, Ini Komitmen Jabar

Oleh : redaksi

Jurnalbandung.com  – Memperingati Hari Air Dunia yang jatuh setiap tanggal 22 Maret, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen untuk terus memelihara dan menjaga air baik kuantitas maupun kualitasnya.

“Kita memperingati hari air dunia tentu tidak hanya seremoni tapi ini adalah komitmen kita untuk lebih memelihara air baik kuantitas maupun kualitasnya,” tegas Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) usai peringatan hari air dunia ke 26 tingkat Provinsi Jabar yang dipusatkan di area Situ Abidin, Desa Karangmulya Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Kamis (22/03).

Aher menuturkan, air yang normal secara kuantitas, dari hulu sungai, tengah hingga hilir debit air relatif merata. Agar kuantitasnya teratur maka harus dilakukan penghijauan di berbagai tempat khususnya di kawasan hulu dan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) di seluruh sungai di Jabar.

“Supaya kuantitasnya teratur maka kita harus melakukan penghijauan di berbagai tempat khususnya di kawasan hulu dan sepanjang DAS di sungai yang ada, hanya itu kata kuncinya agar air kembali normal,” tuturnya.

Aher mengatakan, seharusnya debit air yang mengalir dari bulan Januari sampai Desember mengalir normal. Bila di satu saat ada debit air yang terlihat tinggi tidak akan berbahaya bila dikendalikan oleh hutan yang lebat dan prilaku manusia yang tidak membuang sampah ke sungai. Disaat musim kemarau pun dimana debit air berkurang tidak akan menyebabkan kekeringan karena pasokan air dari hulu tetap terus mengalir.

“Saya katakan tadi bahwa air itu harusnya mengalir normal dari Januari sampai Desember kalau kemudian di beberapa bulan ada debit air yang terlihat tinggi tapi itu tidak akan berbahaya karena terkendali oleh hutan yang lebat dimana-mana. Kalaudi musim kemarau ada debit yang berkurang tetapai tidak menyebabkan kekeringan karena pasokan air dari hulu tetap terus mengalir,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut Aher, Pemprov Jabar dan masyarakat harus terus berkomitmen memelihara nilai atau kualitas air. Seperti tidak mengotori air, embung, situ dan tidak membuang sampah, limbah pabrik, limbah rumah tangga dan ternak ke sepanjang aliran sungai.

“Kita harus berkomitmen untuk memelihara nilai air. Di sempadan sungai juga dilarang membangun apapun kalaupun ada jangan membuang apapun dan rumah harus menghadap ke sungai jangan membelakangi,” ujarnya.

Sebab menurutnya, bila rumah dibangun dengan menghadap sungai maka sungai akan menjadi tamannya. Sebaliknya bila membelakangi maka sungai akan menjadi tempat pembuangan.

“Dengan cara ini dan berkomitmen memelihara debit air secara kuantitas dan kualitas maka Insya Allah kita akan tetap memiliki air bersih bagi kehidupan kita,” ucapnya.

Share This

Leave a Reply