Harga Cabai Meroket, DPRD Minta Pemprov Jabar Buat Terobosan

Oleh: Yuga Khalifatusalam

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – DPRD Jawa Barat berharap Pemprov Jabar membuat terobosan baru dalam mengatur pola tanam cabai. Dengan begitu, kenaikan harga cabai yang kerap terjadi bisa diatasi.

Anggota Komisi II DPRD Jabar Yunandar Eka Perwira mengatakan, seharusnya pemprov bisa bekerja sama dengan pemerintah kota/kabupaten untuk mengatur pola tanam cabai.

Menurut dia, dengan adanya kerja sama dalam pola tanam tersebut, harga cabai akan lebih bisa dikendalikan.

“Salah satu solusi untuk mencegah terjadinya kenaikan harga cabai, solusi jangka panjangnya ialah mengatur pola tanamnya. Dan hal tersebut sebenarnya sudah dilakukan saat era Presiden Soeharto,” terang Yunandar kepada Jurnal Bandung, di Bandung, Senin (7/9).

Dia mengatakan, solusi pengaturan pola tanam cabai sebenarnya cukup mudah, tinggal ada kemauan dari pemerintah kota/kabupaten. Namun, saat ini, hal itu diakuinya susah dilakukan karena berbenturan dengan otonomi daerah (otda).

“Kebijakan otda ini menyebabkan kabupaten/kota memiliki kewenangan sendiri. Berbeda dengan dulu, pemprov bisa memberikan instruksi langsung kepada kabupaten/kota penghasil cabai,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini para petani cabai mau menanam cabai saat menjelang Hari Raya Idul Fitri saja.

“Sehingga, mereka panen di bulan puasa. Itu yang menyebabkan setelah Lebaran stok cabai tidak ada. Kalaupun ada harganya mahal,” imbuhnya.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar pun terus memantau harga cabai rawit yang saat ini sudah mencapai Rp75.000 per kilogram.

Kepala Disperindag Jabar Ferry Sofwan Arief mengatakan, berdasarkan pantauan di tujuh kota, harga cabai rawit tertinggi di Bogor, yakni Rp75 ribu per kilogram. Sedangkan terendah di Tasikmalaya Rp65 ribu/kg.

“Kenaikan harga cabai rawit di Jawa Barat mulai terjadi dalam kurun waktu satu pekan terakhir,” kata dia.

Menurut dia, kenaikan harga cabai bukan dikarenakan lonjakan harga komoditas lain, seperti daging sapi dan daging ayam.

Kenaikan harga cabai rawit, kata Ferry, dikarenakan pasokannya yang mulai berkurang dari pusat produksi seperti Garut dan Sukabumi.

“Jadi pasokan cabai rawit sudah mulai berkurang karena masa panen sudah lewat sejak lama,” jelasnya.

Pihaknya pun mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasi kenaikan tersebut. Mengingat, hal ini bagian dari hukum pasar, yakni pasokan yang minim mendorong kenaikan harga komoditas.

Share This

Leave a Reply