Gubernur Sebut Bencana Banjir Akibat Manusia Hidup Tanpa Ilmu

Oleh: Redaksi

Jurnalbandung.com – Permasalahan banjir di Kabupaten Bandung, sampai saat ini masih belum terselesaikan. Meskipun sudah ada kolam retensi di Cienteung, namun bencana banjir tetap melanda.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil menjelaskan, bencana banjir yang biasa terjadi di Kabupaten Bandung adalah ulah manusia hidup tanpa ilmu.

“Sekarang jalan dibeton, buang sampah ke sungai, buang kasur, kursi lemari dan banyak lagi,” kata dia kepada wartawan saat ditemui di Kabupaten Bandung. Sabtu (16/11).
Dia mengatakan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum tengah membangun terowongan Curug Jompong di Desa Lagadar, Margaasih, Kabupaten Bandung. Pembangunan terowongan ini bertujuan untuk mempercepat aliran air menuju Waduk Saguling sehingga bisa meminimalisasi banjir yang ditimbulkan setiap musim hujan.
“Ini bukti kerja pemerintah, mudah-mudahan bisa mengurangi genangan air di wilayah Kabupaten Bandung,” katanya.
Kepala BBWS Citarum Bob Arthur mengatakan, dengan akan beroperasinya terowongan air Curug Jompong, aliran Sungai Citarum dari kawasan hulu akan semakin lancar. Dengan begitu, dia berharap potensi banjir di Kabupaten Bandung bisa ditekan meski tidak menjangkau semua kawasan.
“Sekarang sudah 95% terowongan selesai,” kata Bob saat memaparkan kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil), di Curug Jompong, Bandung, Sabtu (16/11).
Bob menjelaskan, beroperasinya terowongan air Curug Jompong ini mampu mengurangi banjir hingga 700 hektare. Jika biasanya bencana tersebut menggenangi 3.500 hektare di wilayah Kabupaten Bandung, diprediksi jumlahnya akan berkurang menjadi 2.700-2.800 hektare.
“Jumlah kepala keluarga yang terbebas banjir sekitar 14 ribu KK,” katanya. Meski tidak semua wilayah akan terbebas banjir, dia berharap keberadaan terowongan air ini bisa mempercepat genangan air di sejumlah daerah.
“Setidaknya terowongan air ini bisa mempercepat genangan. Banjir tetap, tapi genangannya tidak akan lama, karena air di sungai mengalirnya jadi lebih cepat,” katanya seraya menyebut yang biasanya genangan banjir berpekan-pekan, kini bisa surut hanya dalam hitungan hari.
Lebih lanjut dia katakan, terowongan air ini memiliki dua pipa yang masing-masing berukuran panjang 230 meter dengan diameter 8 meter. Dengan begitu, menurutnya terowongan ini mampu mengalirkan air dari Sungai Citarum hingga 700 m3/detik.
“Masing-masing terowongan 350 m3/detik,” katanya. Selain bisa mempercepat aliran air, terowongan di Curug Jompong inipun mampu menarik material sedimentasi yang ikut terbawa air.
Sebab, terowongan ini memiliki kolam penyimpan sedimentasi yang mampu menampung hingga 6.000 m3. “Jadi selain bisa mempercepat air, juga bisa menjadi penangkapan sedimentasi,” katanya.

Share This

Leave a Reply