Gerhana Matahari Total Bisa Disaksikan Lagi 2019 Nanti

Oleh: Dadan Burhan AA

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Bagi Anda yang belum puas menyaksikan gerhana matahari total (GMT) hari ini, Rabu (9/3), tak perlu berkecil hati. Sebab, tiga tahun mendatang atau 2019 nanti, GMT kembali bisa disaksikan di Indonesia.

Namun, saat itu, giliran Pulau Sumatera dan Kalimantan yang akan dilintasi fenomena alam menakjubkan tersebut. Sementara masyarakat Pulau Jawa bisa menyaksikan kembali GMT 2081 mendatang.

Hal itu diungkapkan salah seorang pendiri Komunitas Pendongak Langit (Kapella) Tri Nuraminudin. Bahkan, menurutnya, gerhana matahari akan terjadi lagi tahun ini. Namun, bukan gerhana matahari total, melainkan gerhana matahari cincin yang akan terjadi pada September 2016 nanti.

“Gerhana matahari total akan terjadi pada tahun 2019. Namun, hanya bisa disaksikan di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Sementara itu, GMT akan kembali menyapa Pulau Jawa pada tahun 2081 mendatang,” ungkap Nuraminudin kepada jurnalbandung.com seusai observasi GMT di pelataran Masjid Raya Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Rabu (9/3).

Tadi pagi, Masjid Raya Unpad Jatinangor dipenuhi jamaah yang ikut melaksanakan salat gerhana matahari. Setelah berjamaah melaksanakan salat gerhana matahari, langsung dilanjutkan observasi GMT.

Kegiatan observasi tersebut digagas oleh Kapella, Cakrawala HIMF FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB, dan Astronomi SMA Bandung (Astrophile).

Bahkan, mahasiswa dan masyarakat juga menyaksikan live streaming kontak awal bulan dengan matahari dimana bulan berada satu garis lurus dengan matahari dan bumi.

Nuraminudin melanjutkan, Unpad Jatinangor merupakan tempat keempat yang  digunakan untuk mengamati gerhana, dimana tempat lainnnya, yakni di ITB Bandung, Bosscha Lembang, dan Monumen Perjuangan Bandung.

“Kami buka secara gratis untuk umum, soalnya peristiwa ini (GMT) adalah peristiwa sekali dalam seumur hidup yang bisa disaksikan masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Aam itu.

“Maka dari itu, ini adalah momen yang sangat langka. Ini adalah keajaiban dan keagungan Tuhan yang menciptakan Alam Semesta. Bukan hanya untuk di amati saja, tapi peristiwa GMT harus direnungkan,” katanya.

Menurut Aam, GMT yang terjadi tahun ini punya keistimewaan tersendiri. Pasalnya, peristiwa langka ini hanya dapat disaksikan di daratan Indonesia. Bahkan, di Indonesia sendiri ada 11 hingga 12 provinsi yang dapat menyaksikan gerhana matahari, meskipun tidak semuanya GMT.

“Kami di sini tidak menggunakan alat yang canggih untuk observasi,¬† hanya menggunakan kamera lubang jarum dan kaca mata dengan filter khusus ND5 (netral density),” sebutnya.

Menurut Aam, filter khusus ND5 tersebut bisa menyerap dengan menyaring cahaya matahari hingga 100.000 kali, sehingga aman untuk retina. Pasalnya, jika masyarakat melihat GMT dengan mata telanjang, maka dapat merusak bagian mata.

“Kerusakan mata bukan terjadi instan pada saat itu. Namun, efeknya bisa dirasakan selama bertahun-tahun. Bahkan, bisa menyebabkan kebutaan permanen,” pungkas Aam.

Share This

Leave a Reply