Gara-gara Lupakan Pancasila dan UUD 1945, Masyarakat Kini Mudah Terlibat Konflik

Oleh: Bayu Wicaksana

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Lunturnya sikap saling menghargai dan menghormati di masyarakat menjadi bukti banyaknya masyarakat yang kini mulai meninggalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian benang merah acara Sosialisasi Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika yang dilakukan anggota DPR asal daerah pemilihan I Jawa Barat Ledia Hanifa Amaliya, diĀ  Park Hotel, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, akhir pekan lalu.

Dalam acara yang dihadiri ratusan kader Posyandu Kota Bandung itu, Ledia mengatakan, Pancasila dan UUD 1945 harus dipahami betul oleh masyarakat. Sebab, keduanya menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kedua hal tersebut, kata Ledia, mengarahkan masyarakat agar berperilaku baik, di antaranya berpedoman pada nilai-nilai agama dan keadilan.

“Tapi sekarang kita enggak punya pegangan (meninggalkan nilai-nilai Pancasilan dan UUD 1945), sementara era globalisasi luar biasa masuk. Akhirnya kita lepas dari aturan-aturan agama. Kita melupakan sebagai bangsa yg adil, bermusyarah,” tutur Ledia seusai acara.

Sebagai contoh, lanjut Ledia, masyarakat kini sering terjebak ke dalam persoalan yang kecil, namun menjadi besar. Rasa menghormati dan menghargai sesama warga nyaris dilupakan.

“Bagaimana kita mengapresisi keberhasilan orang-orang di sekitar kita, saling memotivasi, itu sudah makin minim. Oleh hal-hal sepele, masyarakat kita mudah tersulut,” kata Ledia seraya menyebut bentrokan pendukung klub sepak bola di Jakarta belum lama ini sebagai contoh nyata.

Selain itu, tambah dia, tawuran antarmasyarakat pun seakan tak pernah berhenti, bahkan terus meningkat.

“(Jika dulu) tawuran antarsekolah, sekarang jadi antarkampung. Ini jadi persoalan besar,” ungkapnya.

Ledia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat meninggalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Pertama, karena minimnya pemimpin di Tanah Air yang mampu menjadi teladan.

“Faktor penyebabnya keteladanan. Bukan cuma di tingkat daerah, tapi juga ke tingkat pusat. Faktor keteladan ini penting karena menjadi hal yang dicontohkan. Faktor keteladan adalah faktor utama,” bebernya.

Kedua, sistem kenegaraan yang ada saat ini menurutnya harus diperbaiki, terutama yang menyangkut sistem pendidikan. Saat ini, lanjutnya, sistem pendidikan di Indonesia cenderung kognitif.

“Internalisasinya belum sampai pada aspek melibatan perasaan, keaktifan dan sebagainya,” imbuhnya.

Ketiga, ketahanan keluarga masyarakat tergolong rapuh, sehingga pendidikan dalam keluarga kurang berjalan baik. Padahal, perang keluarga sangat penting dalam tumbuh kembang generasi muda.

“Keluarga itu basis pendidikan awal,” sebutnya.

Menurutnya, ketahanan keluarga disebut lemah karena tidak mampu membangun azas yang kokoh dan nilai-nilai perilaku seharusnya.

“Banyak keluarga yang tidak menanamkan itu, sehingga mudah goyah. Ketika ada tekanan, menimbulkan konflik,” katanya.

Ledia menilai, lemahnya ketahanan keluarga di masyarakat ini salah satunya disebabkan kebutuhan ekonomi yang tinggi dan banyaknya persoalan lain dalam kehidupan.

“Tapi nilai-nilai perilaku harusnya ada di keluarga. Ini saling berkaitan satu sama lain,” ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, keberadaan kader Posyandu menjadi ujung tombak dalam meningkatkan ketahanan keluarga di masyarakat. Sehingga, keberadaannya harus terus didorong dan diapresiasi.

“Mereka ujung tombak, tapi sering jadi ujung tombok. Mereka bukan orang kelebihan ekonomi, tapi kelebihan empati. Harusnya pemerintah daerah maupun pusat terus mengapresiasi,” pungkasnya.

Share This

Leave a Reply