Festival Antikorupsi Libatkan Difabel dan Anak-anak Down Syndrome

Oleh: Redaksi/Yuga Khalifatusalam

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Festival Antikorupsi (FA) 2015 menjadi ajang yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat, termasuk difabel dan anak-anak down syndrom.

Hubungan Antarlembaga Konsorsium Komunitas Sely Martini mengatakan, selama ini, suara para difabel tidak pernah didengar. Padahal, mereka adalah kelompok yang sering mendapat perlakuan tidak adil dan menjadi korban dari perilaku koruptif.

“Dengan dilibatkan dalam Festival Antikorupsi ini, kami berharap suara mereka lebih didengar oleh pemerintah daerah juga pusat. Salah satu hostnya kan Pemkot Bandung, agar pemkot lebih aware pada kebutuhan mereka,” ujar Sely yang juga mewakili Indonesian Corruption Watch (ICW) dalam event ini.

Namun, keterbatasan fisik yang mereka miliki seringkali menjadi kendala bagi teman-teman difabel untuk bisa berperan aktif. Oleh karenanya, dalam FA 2015, pihaknya menyiapkan puluhan relawan untuk mendampingi mereka.

Sedikitnya 55 orang mengikuti Pelatihan Relawan Sahabat Difabel Prung 2015 di Ruang TVST 9022 Kampus ITB, Jalan Ganesha Nomor 10 Kota Bandung, Minggu (29/11) lalu. Mereka nantinya akan menjadi relawan pendamping bagi para penyandang cacat saat acara puncak #Prung Festival Antikorupsi 2015, 10-11 Desember 2015 mendatang.

“Peran para relawan diharapkan bisa memaksimalkan partisipasi difabel yang selama ini terkesan diabaikan. Kami ingin Festival Antikorupsi ini difabel friendly. Kami juga sudah launching Gradasi (Gerakan Difabel Antikorupsi) beberapa waktu lalu,” tuturnya.

Selain difabel, FA 2015 juga mengajak anak-anak down syndrom untuk ikut merasakan kemeriahan dan keceriaan acara puncak yang akan digelar di Lapangan Tegalega, Kota Bandung itu.

“Saya menyambut baik sekali ajakan untuk melibatkan anak down syndrom. Senang dengan acara yang diagendakan dengan smooth. Sangat ramah anak, terutama untuk anak-anak down syndrom,” ujar Humas Perkumpulan Orangtua Anak dengan Down Syndrom (POTADS) Rainy Mawarwati.

Rainy juga berharap, keterlibatan mereka dalam FA 2015 bisa sejalan dengan visi misi POTADS yang terus melakukan upaya edukasi ke masyarakat.

“Selama ini kami kerja sendiri, bantuan pemerintah kalau ke teman yang lain ada, tapi ke kami tidak. Padahal, seperti yang kita tahu, sekolah inklusi itu mahal. Jadi senang sekali ada yang peduli,” ujar Rainy.

Para relawan yang menjadi peserta training kebanyakan anak-anak muda yang peduli terhadap para difabel. Mereka datang dari komunitas yang peduli terhadap difabel, seperti Sahabat Difabel dan Teman Difabel. Namun ada pula peserta yang tertarik bergabung karena ingin memaksimalkan potensi dirinya.

“Ini hal baru bagi saya. Saya berharap ini jadi tempat saya mengasah kemampuan psikologi saya di sini,” ungkap Chandra Widiastuti, 19, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung.

Leave a Reply