Dongkrak Pamor Batik, Netty Heryawan Dorong Pebatik Berani Keluar dari Pakem

Oleh: Redaksi

Jurnalbandung.com – Perkembangan batik di Jawa Barat dinilai sangat memuaskan. Hampir 27 kabupaten/kota di Jabar kini mulai membuat batik dengan motif khas daerah masing-masing.

Salah satunya motif mega mendung yang merupakan motif batik khas Cirebon yang banyak diminati dan dikenal luas.

Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jabar Netty Heryawan saat melakukan kunjungan ke Sentra Batik Trusmi di Kabupaten Cirebon, Rabu (18/1)).

“Hal ini karena karakteristik masyarakat Cirebon yang berada pada titik lintas perdagangan membuat perajin berani keluar dari pakem,” ungkap Netty.

Para perajin batik Cirebon dengan berani menciptakan kreativitas dan inovasi atas warna dan motif baru yang lazimnya ada di masyarakat. Nilai tambahnya, tutur Netty, sejak penetapan batik sebagai Intangible Word Heritage pada 2 Oktober 2009 lalu, kecintaan masyarakat terhadap batik kini mulai terbangun.

Hal ini pula lah yang menggerakan Dekranasda Jabar untuk mendorong para pelaku usaha dan pebatik mengembangkan kreativitas dan inovasi melalui pembinaan.

Sebab, lanjut Netty, warna dan motif batik itu umumnya selalu gelap dengan warna tanahan dan soga. Sehingga, masih ada beberapa daerah lain di Jabar yang belum berani untuk keluar dari pakemnya. Imbasnya, batik kurang diminati dan tidak berkembang.

“Ternyata hari ini batik tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk fashion, tapi juga dalam aplikasi interior di rumah,” tambah Netty.

Menanggapi foto salah satu artis dunia Madonna yang menggunakan batik dalam sesi pemotretan dan sempat menjadi viral, istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan itu mengatakan, saat ini, batik sangat dikenal luas oleh dunia international.

Bahkan, mendiang Nelson Mandela pun terkenal dengan icon kemeja batik yang juga menjadi viral di berbagai media.

“Tinggal bagaimana kita mendokumentasikan motif yang digunakan di luar negeri. Itu yang menjadi tanggung jawab kita. Bagaimana Dekranasda, Kementerian Hukum dan HAM dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk terus menjaga HAKI ( Hak Atas Kekayaan Intelektual) dari setiap motif baru yang dilahirkan para pebatik Indonesia,” paparnya.

Netty pun berharap batik tetap dilestarikan, khususnya oleh generesi muda. Sebab, menurut Netty, selama ini, batik masih identik dengan orang tua yang diklaim lebih tekun dan teliti. Padahal, jika dikerjakan anak muda, tidak menutup kemungkinan motif batik akan lebih kaya kreasinya.

“Batik bukan saja menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia, tetapi juga dapat berdampak bagi kesejahteraan para pelaku usahanya,” pungkas Netty.

Share This

Leave a Reply