Dari Cibiru Karyanya Merambah Pulau Dewata

Oleh: Ridwan Farid

Foto oleh redaksi
Foto oleh redaksi


Jurnal Bandung – Tidak banyak orang yang tahu jika lukisan yang banyak dijual di toko-toko souvenir di Pulau Bali ternyata sebagiannya berasal dari sudut timur Kota Bandung, Cibiru.

Namun, begitulah nyatanya. Salah satu pemasok lukisan ke Pulau Dewata itu adalah Dadeng Martino, seorang pelukis beraliran naturalis. Saat ditemui di sanggar lukisnya yang tak jauh dari bunderan Cibiru, Kota Bandung, Dadeng mengungkapkan, karya lukisnya memang banyak dipasok untuk toko-toko souvenir di Pulau Bali.

Sebelum menetap di Cibiru puluhan tahun lamanya, Dadeng mengaku memang sempat tinggal di Bali beberapa tahun lamanya saat Pulau Dewata itu belum ramai dikunjungi wisatawan seperti saat ini.

“Lukisan-lukisan yang di jual di pasar Seni Sukowati, Bali banyak yang dipasok dari sini,” ungkap Dadeng kepada Jurnal Bandung, belum lama ini.

Selain itu, aliran naturalis yang selama ini dianutnya menjadikan hasil karnyanya mudah dimengerti dan dipahami banyak orang. Sebab, kata Dadeng, lukisan naturalis tidak serumit karya pelukis beraliran abstrak maupun ekspresionis. Oleh karenanya, karya lukis Dadeng banyak dijual sebagai souvenir.

“Objek lukisan naturalis biasanya hewan, tumbuh-tumbuhan, maupun pemandangan,” sebut Dadeng.

Selain Bali, sebagian kecil hasil karyanya pun dijual di pusat seni Braga, Kota Bandung dan sejumlah tempat seni lainnya. Dadeng pun kerap menerima pesanan lukisan dengan model yang terbatas.

Meskipun Dadeng menempati sanggar yang terbilang sangat sederhana, namun dari tempat itulah muncul karya seni yang bisa dinikmati banyak orang, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Dadeng mengaku mendapatkan keahlian melukis secara otodidak. Bahkan, dia pun mengaku tidak memiliki darah seni dari keluarganya. Orang tua Dadeng hanyalah pedagang biasa.

“Asal punya keinginan kuat dan tekun, saya yakin saya bisa melukis. Selain itu, bagi saya, melukis adalah panggilan jiwa,” ucapnya.

Meskipun begitu, era kejayaan sanggar lukis Dadeng Martino kini hampir meredup. Pasalnya, tak sedikit anak didik Dadeng yang kini membuka usaha lukis sendiri, namun usaha mereka tidak dibarengi persaingan yang sehat.

Akibatnya, Dadeng dan sejumlah anak didiknya yang kini masih bertahan harus mengalami persaingan ketat dalam memasarkan lukisannya.

“Seperti pepatah, habis manis sepah dibuang. Tak sedikit anak didik saya yang kini jadi lawan dari usaha lukisan ini,” ujarnya.

Bahkan, persaingan bisnis yang ketat dan kurang sehat itu kini tengah mengancam usahanya. Terlebih, sebagian besar keuntungan yang diperoleh Dadeng dari usaha lukisannya itu sebagiannya dipakai untuk memodali anak didiknya belajar melukis.

Untuk diketahui, kepekaannya terhadap masyarakat sekitar membuat Dadeng tak sungkan mengorbankan apa yang menjadi milik dia dan keluarganya. Bahkan, untuk memperluas bangunan sanggar lukisnya agar bisa menampung banyak anak didik, Dadeng pun rela mengorbankan tanah pekuburan milik keluarganya.

Di lahan pekuburan milik keluarganya itulah Dadeng membangun sanggar lukis yang terbilang sangat sederhana. Meskipun hanya beratapkan seng dan berlantaikan tanah, namun dari tempat sederhana itu, belasan anak didik Dadeng yang umumnya anak putus sekolah dan pengangguran berhasil keluar dari kesulitan ekonomi.

Di tengah kondisi yang serba kekurangan, Dadeng tak pernah patah semangat untuk terus mengajarkan keahlian melukis.

“Saya hanya berharap, pemberdayaan masyarakat sekitar, terutama mereka yang putus sekolah dan mengganggur tidak berhenti sampai di sini,” tandasnya.

Share This

Leave a Reply