Nuryanti HR, Rela Menjadi Sopir Angkot Demi Menyambung Hidup kedua Anaknya

Oleh: Ridwan Alamsyah
nurhayati sopir angkot perempuan
Jurnal Bandung – Matahari bersinar terik siang itu. Di balik kaos dan celana panjangnya, sepintas sopir angkutan kota (angkot) itu tampak seperti seorang laki-laki.

Bersembunyi di balik topi dan rambut tanggungnya, Nuryanti HR, 35, terlihat serius bekerja tanpa menghiraukan terik matahari yang membakar kulitnya.

Ibu dari Indah, 14, dan Gilang, 8, ini tengah berjuang untuk kedua anaknya. Namun, penghasilan Yanti, panggilan akrabnya, yang merupakan orang tua tunggal ini tidaklah cukup untuk menyekolahkan kedua anaknya, hanya cukup untuk makan dan bertahan hidup.

“Biaya kontrakan rumah serta kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal memaksa anak-anak berhenti sekolah, walaupun mereka masih bersemangat. Hal itulah yang paling menyayat hati saya,” ungkapnya lirih kepada Jurnal Bandung, Rabu (3/6).

Namun, mengeluh bukanlah solusi. Kondisi tersebut dijadikannya sebagai motivasi dan penyemangatnya dalam bekerja. Mulai dari pukul 4.30 WIB, saat hari masih gelap, Yanti menembus dinginnya udara pagi meyusuri jalur Ciwastra-Cicaheum dan pulang ke rumah saat adzan Isya berkumandang.

“Disambut anak-anak bagai obat cape kang, namun sakit rasanya. Terlebih kalau ingat mereka tidak sekolah, tidak bisa dibayangkan masa depan mereka. Tapi bagaimana lagi, saya tidak sanggup membiayai sekolah mereka,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Tanpa libur dan antisakit, hari demi hari terus dilalui Yanti sejak dirinya memutuskan menjadi sopir angkot, delapan tahun silam. Menurutnya, kesulitan hidup hanya dapat dipecahkan dengan ikhtiar.

“Mau gimana lagi kang, syukur punya pekerjaan sebagai supir angkot. Kalau sakit panas dingin saja sih jangan dirasa, soalnya darimana lagi dapat uang untuk makan,” ungkapnya

Diakui Yanti, menjadi sopir angkot memang tidaklah mudah. Berbagai cobaan yang datang menjadi hal yang biasa dia terima, mulai dari para berandal yang suka meminta uang di sepanjang jalur angkotnya hingga sejumlah oknum sopir angkot yang tidak menyukai keberadaannya.

“Ada beberapa kang yang suka sentimen, tapi ga apa-apa saya biarin aja yang penting kebutuhan anak-anak saya di rumah bisa dipenuhi,” ujar Yanti sambil menyeka keringat di kulit mukanya yang menghitam terbakar matahari.

Sekilas Yanti bercerita awal mula kiprahnya menjadi sopir angkot. Dia mengungkapkan, awalnya dia sering menjadi kernet seorang sopir angkot bernama Iwan. Akhirnya, setelah belajar menyetir, Yanti pun berniat mengikuti jejak Iwan sebagai sopir angkot.

Seiring berjalannya waktu, Yanti akhirnya mendapatkan kesempatan bekerja menjadi sopir angkot 09 trayek Ciwastra-Cicaheum atas kebaikan H Dadang, seorang bandar angkot yang tinggal tak jauh dari rumah kontrakan Yanti di Cipagalo.

Di penghujung pembicaraan, Yanti berharap besar dapat kembali menyekolahkan kedua anaknya. Menghadirkan tawa mereka di rumah, kata Yanti, layaknya air yang menyegarkan, yang membasuh berbagai kesulitan hidup yang dilaluinya setiap hari.

“Moga-moga ada keajaiban yang datang, saya akan bersyukur sekali kalau itu sampai terjadi,” tutupnya.

Leave a Reply