Angka Drop Out KB di Jabar Mengkhawatirkan

Oleh: Redaksi

Foto net
Foto net

Jurnal Bandung – Kepala Perwakilan Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat Sugilar mengkhawatirkan tingginya angka drop out (akseptor yang berhenti menggunakan alat kontrasepsi).

Di Jabar, angka drop out akseptor KB memang terbilang tinggi, baik yang menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek seperti pil dan suntik maupun yang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) seperti IUD, spiral, dan implan.

Sugilar mencontohkan, selama enam bulan saja, pihaknya mencatat 645 ribu orang menjadi akseptor MKJP. Namun, selama itu pula, sekitar 533 ribu akseptor MKJP lainnya memutuskan untuk drop out.

“Kondisi ini tentu harus diwaspadai. Padahal, ketersediaan MKJP sendiri memadai. Namun, berbanding terbalik dengan jumlah peserta aktif (PA)-nya,” tutur Sugilar dalam acara Telaah Program Kependudukan di Hotel Newton, Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (12/8).

Untuk diketahui, betapapun luasnya cakupan program Keluarga Berencana (KB) maupun Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK), namun keberhasilan program KB tetap mengacu pada total fertility rate (TFR). Semakin kecil angka TFR, maka semakin berhasil program KB.

“Nah, TFR bisa turun manakala kepesertaan atau CPR (contraceptive prevalence rate) naik stabil. Sebaliknya, jika CPR tak kunjung naik, maka sulit menurunkan TFR. CPR sendiri tidak akan naik bila PB (peserta baru) tidak naik,” jelas Sugilar.

Tingginya angka drop out di Jabar, lanjut Sugilar, diperparah dengan masih bermasalahnya penyediaan alat kontrasepsi jangka pendek. Diakuinya, permasalahan itu bukan hanya terjadi di Jabar, namun juga di tingkat nasional.

“Tolong, strategi kita dalam pencapaian program KB, kita harus mampu mengarahkan masyarakat menggunakan MKJP. Kenapa? karena ketersediaan pil dan suntik yang bermasalah. Tapi kalau memang mau diarahkan ke pil dan suntik, arahkan masyarakat untuk mandiri (tidak bergantung pada alat kontrasepsi yang disediakan pemerintah),” bebernya.

Sugilar menyebutkan, di Jabar sendiri terdapat sekitar 7 juta pasangan usia subur dan 5 juta di antaranya menggunakan alat kontrasepsi pil dan suntik.

“Makanya, mengarahkan untuk menggunakan MKJP menjadi solusi yang paling efektif di tengah-tengah ketersediaan alat kontrasepsi jangka pendek yang masih bermasalah,” tandasnya.

Leave a Reply