11 Varian Rasa Kue Cubit Jalan Kalimantan, Kering di Bawah Lumer di Atas….Yummy!

Oleh: Ridwan Farid

Foto  oleh: Ridwan Farid
Foto oleh: Ridwan Farid


Jurnal Bandung – Sajian kuliner di Kota Bandung seolah tak ada matinya. Berbagai kreasi dan inovasi kuliner terus bermunculan, tak terkecuali berbagai jenis camilan.

Meskipun tidak terbilang baru, belakangan banyak dijumpai penjual kue cubit di Kota Bandung. Bahkan, kue cubit rasa green tea kini menjadi camilan populer di Kota Bandung.

Menyikapi semakin maraknya penjual kue cubit, Jajang, 36, menciptakan berbagai varian rasa kue cubit. Tidak tanggung-tanggung, Jajang menawarkan 11 varian rasa berbeda dari kue cubit yang dijualnya, termasuk rasa green tea di antaranya.

Lelaki asal Kota Dodol Garut itu awalnya hanya mencoba-coba berbagai varian rasa. Bermodalkan sedikit pengetahuan tentang berbagai rasa sajian kuliner, Jajang kemudian memadukan varian rasa itu dalam kue cubitnya.

Berbeda dengan kue cubit di tempat lain dimana varian rasanya ditentukan oleh topping, rasa kue cubit Jajang justru ditentukan adonannya. Bahan-bahan varian rasa dicampurkan Jajang ke dalam adonan kue cubitnya.

“Awalnya sih cuma coba-coba, tapi ternyata banyak yang suka. Saya tau berbagai varian rasa. Untuk dapetin bahannya, saya searching di internet,” ungkap Jajang kepada Jurnal Bandung, Kamis (26/3).

11 varian rasa kue cubit yang dijajakan Jajang adalah green tea, thai tea, banana, cappucino, taro, tiramisu, oreo, blueberry, strawberry, original, dan red velvet.

“Saya jual per loyangnya Rp15 ribu, kecuali red velvet Rp20 ribu. Rasa red velvet itu saya dapetin dari buah naga,” sebut Jajang.

Saat dicoba, kue cubit hasil kreasi Jajang memang lezat, aroma tiramisu dan cappucinonya kentara meskipun tanpa topping. Bagian bawah kuenya kering, namun di bagian atas lumer. Sensasi berbeda pun langsung terasa saat gigitan pertama, yummy!

Saban hari Jajang berjualan di Jalan Kalimantan, tak jauh dari SMA Negeri 5 Bandung dan kompleks sekolah Edu Global School. Kiosnya buka sejak pukul 09.00 pagi hingga menjelang magrib. Karena berada di kawasan pendidikan, tak sedikit pula pelanggannya adalah pelajar.

“Tapi, kalau dirata-ratakan sih hanya 20% saja pembeli saya pelajar, sisanya malah banyak kalangan dewasa,” imbuh Jajang.

Jajang sadar, berbisnis kuliner atau camilan di Bandung harus dibarengi kreasi dan inovasi. Tanpa keduanya, kata Jajang, sulit kiranya bisa bertahan. Oleh karena itu Jajang pun terus mengasah keterampilan dan pengetahuannya tentang kuliner baik dengan bertanya ataupun mengandalkan bantuan internet.

“Kalau ga gitu, sulit untuk bertahan apalagi maju,” ucap Jajang yang berencana membuka cabang kios kue cubitnya.

Bahkan, untuk semakin menarik perhatian pembeli, Jajang pun memberi nama unik kue cubitnya. Dia menamainya Kue Cubit Portugal.

“Itu ada artinya, Portugal itu kependekan dari porosan tutugan gunung Galunggung atau turunan menuju gunung Galunggung, sebuah daerah antara Garut dan Tasikmalaya,” ujar Jajang tersenyum.

Share This

Leave a Reply